Selamatkan Hutan Kita Untuk Anak Cucu Kita Nanti

Sunday, May 07, 2017 0 comments

penulis duduk di atas kayu-kayu eksploitasi, 2012
Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi ketika negara Indonesia disebut-sebut sebagai negara yang kaya akan potensi keanekaragamannya, baik kekayaan sumberdaya alam, hayati maupun non hayati. Kekayaan yang begitu luarbiasa bagi Indonesia tersebut tersebar diantara + 17.508 pulau-pulau yang berjajar dari sabang hingga merauke yang membentang sejauh 81.000 km dengan luas 3,9 juta km2 disepanjang garis astronomis koordinat 6o LU-11o LS sampai 65o BT-141o BT.

Keanekaragaman kekayaan Indonesia yang potensial selain terdapat ratusan etnis dengan berbagai suku bangsa, bahasa dan adat istiadat, serta budaya yang telah lama ada di nusantara, menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat multikultural. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan potensi lainnya yang tidak kalah penting. Diantaranya berupa kekayaan barang tambang, minyak dan gas serta mineral dan lain sebagainya yang kemudian menjadikan bangsa Indonesia dijuluki sebagai negara ladang minyak. Kekayaan potensi agraris Indonesia yang banyak menghasilkan beranekaragam hasil bumi dari pertanian, perkebunan dan lain sebagainya menjadikan negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Serta kekayaan potensi kelautan yang dimiliki bangsa Indonesia begitu sangat luas hingga tercatat sebagai negara yang wilayah lautannya lebih luas dibandingkan dengan wilayah daratannya, serta negara yang memiliki garis pantai terpanjang nomor 2 di dunia dengan kekayaan potensi hasil laut yang sangat berlimpah menjadikan negara Indonesia dijuluki sebagai negara maritim.

Kekayaan Negara Indonesia yang berlimpah ruah tersebut telah lama diakui oleh dunia. Terbukti dari sejak jaman dahulu hingga sampai saat ini, Indonesia masih menjadi negara yang diperhitungkan oleh negara-negara di dunia. Tercatat dalam sepanjang sejarah bahwa Indonesia sebelum menjadi negara yang mereka dan berdaulat (17 Agustus 1945) dari Bangsa Jepang yang telah berkuasa selama 3,5 tahun lamanya (1942-1945). Indonesia secara bergantian juga pernah dikuasai oleh bangsa-bangsa asing seperti: Inggris, Spanyol, Prancis, Portugis dan Belanda. Bangsa yang paling lama menguasai wilayah nusantara adalah Bangsa Belanda, yakni hampir kurang lebih 3,5 abad lamanya berkuasa di tanah air ibu pertiwi.

Awal mulanya ketertarikan bangsa asing yang berbondong-bondong datang ke wilayah nusantara hanyalah untuk sekedar mencari dan melakukan perdagangan saja, yakni perdagangan rempah-rempah yang sangat penting dan dibutuhkan oleh orang-orang eropa. Akan tetapi, ternyata belum membuat mereka puas, sehingga banyak diantara bangsa asing yang lambat laun menyadari bahwa wilayah nusantara memiliki potensi yang sangat luar biasa sebagai penghasil atau produksi rempah-rempah terbesar dan berkualitas. Kondisi tersebutlah yang kemudian membawa bangsa-bangsa asing sebagai pendatang untuk memberanikan diri berlomba-lomba sebagai penguasa atas kekayaan seluruh wilayah nusantara baik menguasai perdagangan (monopoli) hingga menguasai wilayah penghasil rempah-rempah (Maluku, Ternate, Tidore, dll).

Anshrory dan Arbaningsih (2008: 2) mengatakan banyak lahirnya daerah-daerah pusat perdagangan yang ada di wilayah nusantara seperti lahirnya pelabuhan-pelabuhan besar seperti Demak, Tuban, Palembang, Ternate dan Tidore, Bagan Siapi-api, Bone, dan kota-kota lain-lainya merupakan dampak dari letak strategis wilayah nusantara sebagai jalur silang perdagangan dunia, yakni berada diantara dua benua (Benua Asia dan Australia) dan dua samudera (Samudera Hindia dan Pasifik).

Selain menguntungkan secara ekonomi letak Indonesia sebagai pusat perdagangan, letak geografis wilayah nusantara juga memberikan dampak positif terhadap kondisi fisik geografis wilayah di nusantara yang diantaranya adalah cuaca dan iklim yang dimiliki bersifat tropis dengan curah hujan rata-rata yang cukup tinggi + 2.300 mm/th. Sehingga Indonesia memiliki kekayaan flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) yang sangat banyak dan dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi ke-3 di dunia karena memiliki setidaknya sebanyak 515 spesies mamalia (12%), 511 spesies reptil (7.3%), 1.531 spesies burung (17%), 270 spesies amfibia, 2.827  spesies invertebrata, dan sebanyak 38.000 spesies tumbuhan yang ada di dunia (Zulkifli: 2012).

Keberadaan keanekaragaman hayati yang telah disebutkan diatas sebagain besar berhabitat di hutan. Menurut UU No. 41 Th. 1999 Tentang Kehutanan, Bab 1, Pasal 1, ayat 1 menyebutkan bahwa: Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem yang berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayat yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainya tidak dapat dipisahkan.

Berdasarkan definisi tersebut dapat terlihat dengan jelas bahwa hutan dipandang sebagai suatu ekosistem karena didalam hutan terdapat hubungan yang sangat erat satu sama lainnya antara masyarakat tetumbuhan sebagai pembentuk hutan dengan binatang liar dan alam lingkungan (Indriyanto, 2010: 3). Oleh sebab itulah, tidak heran bila hutan dipandang berpotensi besar sebagai sumber penghidupan semua makhluk hidup yang salah satunya dimanfaatkan manusia untuk beragam hal sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Sudah kita ketahui pula bahwa hutan sejatinya merupakan sumber penghidupan semua makhluk hidup yang termasuk didalamnya bukan hanya manusia saja, melainkan juga termasuk flora maupun fauna. Maka dari itulah, kita semua dituntut untuk berperan aktif yang khususnya bagi manusia untuk turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan hutan.

Banyak beragam cara yang dapat dilakukan oleh kita untuk turut serta dalam menjaga kelestarian hutan. Salah satunya dengan melakukan konservasi lahan ataupun dengan menggalakkan penghijaun kembali daerah-daerah yang kritis (reboisasi), seperti yang telah digalakkan pemerintah dengan slogan one man, one tree. Selain itu, kita juga memiliki kewajiban untuk terus merawat dan menjaga tanaman yang telah ditanam tersebut. Hal ini dilkukan agar tanaman yang kita tanam dapat terjaga dan dapat terus berkembang tumbuh menjadi besar. Sehingga upaya penanaman kembali yang seringkali digalakkan tidak hanya sekedar kegiatan menanam dan menanam saja. Akan tapi juga dilakukan dengan cara yang benar yakni dengan disertai kegiatan merawat tanaman sebagai upaya bentuk kepedulian melestarikan hutan secara berkeberlanjutan.

Meskipun upaya pemerintah dalam menyongsong kelestarian lingkungan hutan terus menerus digalakkan. Namun penulis menilai upaya tersebut hanya tetap saja belum membuahkan hasil yang sangat signifikan, karena kerusakan lingkungan hutan semakin tidak dapat dielakkan lagi. Kondisi tersebut mengindikasi bahwa terdapat adanya suatu faktor lain dari penyebab maraknya kerusakan lingkungan hutan. Diantaranya adalah adanya indikasi permainan politik oleh pemerintah terhadap kewenangan pengelolaan hutan yang ada maupun akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat terhadap peran pentingnya fungsi hutan untuk kehidupan manusia yang sesungguhnya. Hal ini diduga juga akibat lantaran tuntutan faktor perekonomian yang dimana masyarakat Indonesia yang sebagain besar merupakan masyarakat golongan kelas menengah kebawah. Sehingga pemanfaatan hutan yang berlebihan oleh masyarakat menyebabkan semakin meluasnya kerusakan lingkungan hutan yang ada.

Tercatat berdasarkan laporan Forest Watch Indonesia, potret keadaan hutan Indonesia periode tahun 2000-2009, angka kehilangan hutan (deforestasi) yang terjadi di Indonesia diperkirakan mencapai 15,2 Juta Hektare dengan kecepatan 1,5 Juta hektare per tahun (Musa, 2012: 26). Selain itu, Indonesia negara yang tercatat sebagai perusak hutan tercepat di dunia dari tahun ketahun. Tercatat laju degradasi dari tahun 1982-1990 mencapai 0,9  juta ha/th; tahun1990-1997 mencapai 1,8 juta ha/th; tahun 1997-2000 mencapai 2,8 juta ha/th; dan pada tahun 2000-2006 mencapai 1,08 juta ha/th. Pada tahun 2008, Indonesia dianugerahi Certificate Guinnes World Records sebagai negara perusak hutan tercepat di dunia berdasarkan data-data dari PBB tahun 2000 hingga tahun 2005 yang rata-rata perhari seluas 51 km² hutan Indonesia hilang (rusak). Dengan mengitung rata-rata kerusakan hutan pada tahun 2002, PBB merilis hutan Sumatra dan Kalimantan punah Th. 2032 (blog.itb.ac.id: 2012).

Berdasarkan permasalahan diatas yang dimana kerusakan lingkungan hutan merupakan masalah ancaman yang sangat besar bagi kehidupan semua makhluk hidup. Bukan hanya manusia saja yang terancam kehidupannya, melainkan juga para tumbuhan dan hewan terancam kehidupannya juga. Musa (2012: 26) mengatakan bahwa deforestasi tidak hanya mengganggu fungsi ekologis hutan, tetapi juga dapat menyebabkan hilangnya kenekaragaman hayati Indonesia yang sangat penting bagi kelangsungan pembangunan Indonesia. Selain itu, dikatakan pula bahwa maraknya berbagai bencana yang terjadi pada akhir-akhir ini tidaklah terlepas dari akibat kerusakan lingkungan yang ada dan sejatinya bencana ekologis yang melahirkan kerusakan lingkungan jelas akan terus menghantui kita.

Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita semua baik pemerintah maupun masyarakat bersama-sama melakukan upaya yang terbaik untuk menjaga kelestarian hutan. Berdasarkan hal tersebut, penulis berinisiatif untuk mencoba memberikan gagasannya dengan menggali potensi lokal masyarakat setempat untuk melestarikan hutan bersama-sama. Adapun gagasan tersebut diantaranya adalah dengan mengoptimalkan pelestarian hutan melalui implementasi kearifan lokal yang berupa penerapan hukum adat. Hal ini didasari atas pentingnya kekayaan sumber daya alam hutan dalam kehidupan sosial masyarakat sebagai sumber penghidupan. Hasan (2012) menyebutkan bahwa lebih dari 70.000 desa yang mata pencarian penduduknya bergantung amat sangat dengan sumberdaya hutan, artinya interaksi penduduk dengan sumberdaya hutan sangat kuat.

Oleh sebab itulah, sudah saatnya kita selamatkan hutan kita untuk anak cucu kita nanti. Karena sesungguhnya bukan untuk aku, dia atau kamu kepeduliaan ini, tapi untuk kita dan anak cuculah kepedulian ini semua tertuju. Menyelamatkan hutan adalah menyelamatkan Indonesia. Kalau tidak kita, siapa lagi?, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia. [*]

Penulis
Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi

FIS UNY

Beasiswa PPA Kampus UNY

0 comments

Daftar  Penerima Beasiswa PPA 2013 yang di Mading kampus FIS UNY 2013
Hari Kamis yang lalu, tepatnya tanggal 4 Februari 2013. Di mading (majalah dinding) kampus FIS (Fakultas Ilmu Sosial) yang berada di depan kasubag kemahasiswa telah terpajang daftar nama seluruh mahasiswa penerima beasiswa PPA/BBM tahun 2013. Diantara nama-nama tersebut, pada urutan nomor 38 tercantum nama “AHMAD SYAIFUL HIDAYAT, 10405241017, FIS, P. Geografi”. Yah, siapa lagi itu kalau bukan namaku. Hehehe,.

Senang sekali rasanya aku dapat kembali meraih beasiswa PPA (Pengembangan Potensi Akademik) untuk ke-tiga kalinya berturut-turut di tahun ke-tigaku selama masa studi kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi S1 FIS UNY (2010-2013). Aku masih ingat beasiswa pertamaku yang ku raih ketika aku duduk disemester 2, dan beasiswa ke duaku yang kuraih ketika aku duduk disemester 4, dan sekarang adalah beasiswa ketigaku, aku memperolehnya disaat aku menginjak semester 6.

Memperoleh beasiswa, bagiku dan mungkin juga bagi sebagian besar orang merupakan sebuah anugerah tersendiri dan bahkan merupakan impian setiap orang. Harapanku kedepan setelah meraih beasiswa ini, semoga beasiswa yang ku peroleh kali ini benar-benar berkah dan dapat ku manfaatkan sebaik-baiknya untuk menunjang keberhasilan dalam menempuh studiku dan semoga dapat menjadi motivasiku untuk terus berkarya dan berprestasi untuk mengejar masa depan dan semua mimpi-mimpiku, serta membawa nama baik almamater tercinta UNY kedepannya, dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun.

Saya ucapkan banyak terimakasih kepada tuhan yang maha esa yang senantiasa memberikan limpahan rahmat serta hidayahnya yang tiada henti-hentinya kepada saya, dan kepada kedua orang tua yang senantiasa mendoakan siang malam tiada lelah, kepada sanak saudara, familli, sahabat, dan tentunya tidak kalah pentingnya adalah kepada para guru, dosen yang sejatinya tanpa beliau, dan tentunya tanpa mereka semuanya, aku tidak ada apa-apanya dan tidak akan jadi apa-apa.
Ya, Without They are, I’m Nothing !!!, so Thank you very much for all.

Ahmad Syaiful Hidayat
Yogyakarta, 6 April 2013

Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia

0 comments

Salah satu bukti konsistensi yang terus menerus dilakukan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), khususnya Fakultas Ilmu Sosial (FIS UNY) dalam membangun dan membentuk pribadi-pribadi manusia berkarakter yang senantiasa mengutamakan ketaqwaan, kemandirian serta kecendekia-an adalah hadirnya kajian-kajian kritis berkualitas dan berkarakter oleh para akademisi baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus.

Antusiasme Peserta |Bedah Buku, 2013
Untuk mewujudkan hal tersebut diatas, salah satu kegiatan yang dilakukan FIS dalam rangka Dies Natalis ke 49 UNY, FIS bekerjasama dengan Yayasan Fethullah Gullen Chair UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar diskusi Bedah Buku “Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia” Karya Muhammad Fethullah Gulen (Turki) yang diterjemahkan oleh Fuad Saefudin dari buku aslinya yang berjudul “An Nur Alkhalid Muhammad Mafkhirat Al-Insaniyah”, Sabtu (16/3/2013) di Ruang Kihajar Dewantara, FIS UNY.

Buku setebal 1231 halaman yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa dan telah terjual lebih dari 1,5 juta exemplar ini di bahas secara jelas oleh ketiga pembicara yakni Dr. Ali Unsal, Ph. D (Tokoh Akademisi, Direktur Yayasan Fethullah Gulen Chair, serta dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Dr. Bermawi Monthe, dan Guru Besar FIS UNY, Prof. Dr. Husein Haikal, MA.

Dalam kesempatannya, Dr. Ali Unsal, Ph. D yang didampingi oleh penerjemahnya berbicara mengenai sebuah karakter, beliau mengatakan bahwa hendaknya generasi muda di era masa kini sudah saatnya mulai mengenal dan mencontoh kepribadian maupun perilaku seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Pernyataan Ali Unsal, ternyata juga didukung pula oleh Bermawi Monthe dan Husein Haikal dengan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan suri tauladan rahmatan lilalamin.

“Muhammad sungguh luarbiasa, sungguh menjadi kebanggaan seluruh isi alam raya, bukan hanya manusia, melainkan tanaman sekalipun juga, kita dapat dengarkan namanya selalu disebut-sebut tiada henti oleh manusia diseluruh dunia selama 24 jam” ungkap Bermawi Monthe.

Selain itu, Bermawi Monthe dalam kesempatannya mengungkapkan dengan jelas bagaimana isi pokok dalam buku tersebut baik kelebihannya maupun kekurangannya. Diantaranya, Bermawi Monthe mengatakan bahwa isi buku tersebut sangat dengan jelas dalam menjelaskan bahwa Muhammad yang sampai pada saat ini masih menjadi sebuah kebanggaan rahmatan lilalamin seisi alam raya, bukan hanya manusia tetapi juga tanaman dan seisi kehidupan ini.

“Buku ini merupakan bukti cinta penulis kepada rasullullah dengan pengungkapan kata-kata yang begitu dalam dan sangat normatif dengan argumen - argumen langsung dari hadist-hadist Rasulullah yang sangat jarang dijumpai didalam buku-buku tentang biografi Muhammad lainya” ungkap Bermawi Monthe.

Adapun kelebihan lain buku yang dipaparkan oleh Bermawi Monthe diantaranya adalah buku tersebut tidak terlalu menonjolkan banyaknya kekerasan atau peperangan seperti yang banyak dibahas dalam buku-buku tentang Biografi Muhammad lainnya, banyak menguraikan tentang sifat-sifat nabi, sehingga dapat memperjelas kecerdasan inteligensi manusia yang berupa kesadaran diri, motivasi, empati maupun sosial skill.

“Kelebihan lainya adalah tulisan dalam buku ini dapat menghipnotis para pembaca yang dapat merasakan seolah-olah hidup dijaman rasullulah seperti pada saat rasullulah meletakkan hajar aswad, penjelasan peran-peran rasul dan sunah, arti sunah” ungkap Bermawi Monthe lebih lanjut.

Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi FIS UNY

Di muat dalam berita:
1. FIS UNY 2. UNY

Renungan Bagi Pemuda Kekinian Saat Ini

Saturday, May 06, 2017 0 comments

Screenshot Tulisan yang dimuat di Okezone.com
Menyambut tahun baru 2013, tidak ada salahnya sejenak instrospeksi diri atas apa yang telah terjadi setahun yang lalu. Optimis itu wajib, semoga banyak diantara kita masih menyakini bahwa, “Orang yang beruntung adalah apabila hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini”. Semoga dengan ini dapat menjadi bekal kita melangkahkan kaki menuju masa depan yang lebih baik. Pengalaman adalah guru yang terbaik, maka tak khayal bila Bung Karno pernah berkata “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta ! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari pada masa yang akan datang”. Tentu itu semua tidak lebih agar kita tidak seperti keledai yang jatuh pada lubang yang sama.

Berbicara soal pengalaman, masih segar dalam ingatan kita bahwa sejarah telah banyak mencatat perjuangan keras pemuda dalam turut andil setiap perubahan bangsa ini. Mulai dari lahirnya organisasi pertama, Budi Utomo (1908), kongres pemuda pertama (1926), Kongres pemuda kedua (Sumpah Pemuda 1928), Proklamasi Kemerdekaan (1945), Orde Lama (1949), Orde Baru (1965), dan Reformasi (1998). Semoga ditahun 2013 ini pula pergerakan pemuda masih terus berlanjut untuk menorehkan ribuan harapan besar menuju Indonesia yang lebih baik.

Rupanya pemuda yang dulu secara fisik kuat, kokoh, berdaya fikir kritis idealis solutif dengan semangat juang tinggi, kini pelan dan pasti mulai tergerus oleh derasnya arus globalisasi. Sikap Hedonis dan apatis telah merasuk kedalam jiwa pemuda yang menyebabkan kehilangan sikap sensitif terhadap problematika bangsa ini. Parahnya, pemuda sekarang banyak yang menjadi beban dan pembuat masalah, bukan menjadi yang sebaliknya sebagai pemecah masalah. Sungguh ironi bukan? Pasalnya indikator dari kemajuan bangsa adalah pemuda dan nasib suatu bangsa itu sangat tergantung dari bagaimana kondisi pemudanya. Apabila pemuda suatu bangsa rusak, maka rusaklah bangsa itu dan apabila pemudanya baik, maka baiklah bangsa itu.

Lihat saja, banyak cara dilakukan pemuda saat ini yang sudah tidak lagi mencerminkan sikap teladan bagi generasi bangsa.  Bukan lagi otak yang ditonjolkan, melainkan otot. Contoh, maraknya demontrasi yang berujung anarkis, tawuran antar pelajar dan mahasiswa sudah menjadi makanan dan aktifitas setiap hari. Kondisi ini, tentu juga membuat kita bertanya-tanya. Masih pantaskan ditahun 2013 ini, mereka yang mengaku pemuda, para intelektual muda, mahasiswa dikatakan sebagai generasi harapan bangsa? Semoga bersama mimpi-mimpi 2013 ini, harapan itu masih ada.

Sebagai pemuda, jelas itu merupakan catatan buram. Semoga pemuda kini lebih dewasa dan mulai memahami “kalau tidak kita siapa lagi yang akan membawa nasib bangsa ini menjadi yang lebih baik”. Semoga di tahun 2013 ini menjadi renungan bagi kita bersama yang mungkin masih dianggap sebagai generasi penerus bangsa. Ingatlah bahwa bukan lagi jamannya kita berjuang dengan angkat senjata, tapi sudah saatnya kita berjuang dengan cara yang dewasa, yang kreatif tanpa harus ada pertumpahan darah, perpecahan dan kerusakan terlebih lagi dengan saudara sendiri. Karena kita semua sepakat dengan bersemboyan ”Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua” kita satu, Indonesia. [*]

Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Yogyakarta, 3 Desember 2012

Dimuat di OkeZone.com

Juara 1 Lomba Karya Tulis Mahasiswa UKMF SCREEN 2013

0 comments

Mengangkat Trophy Kemenangan, 2013
Satu prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh Ahmad Syaiful Hidayat atau yang lebih akrab disapa Ipung dalam ajang Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) SCREEN. Mahasiswa Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (FIS UNY) tersebut juga menjuarai berbagai ajang LKTM tingkat nasional di Perguruan Tinggi, seperti di UI, UNAIR, dan UNHAS beberapa pekan yang lalu. Kali ini Ipung berhasil menjadi Juara I LKTM yang diselenggarakan oleh UKMF Penelitian SCREEN FIS UNY  yang diumumkan pada hari Sabtu (5/1/2013) bersamaan dengan acara sidang umum UKMF SCREEN di Ruang Kihajar Dewantara FIS UNY.

Dalam karya tulisnya, Ipung dibantu oleh kedua rekannya yang juga merupakan satu tim dengannya yakni Cucu Sutrisno dan Ahmad Muzoffar mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum (PKnH) FIS UNY. Penulisan karya tulisnya dilatarbelakangi oleh semakin canggihnya teknologi dari waktu ke waktu.yang mengakibatkan generasi muda bangsa Indonesia cenderung melupakan budaya sendiri. Selain budaya Indonesia yang semakin luntur dan terlupakan, maraknya klaim budaya oleh negara asing sangat kerap terjadi sehingga sebagai mahasiwa harus faham betul dengan kondisi bangsa ini.

“Jujur saja saya sendiri bukan seorang budayawan dan bukan seorang yang ahli budaya, tapi setidaknya saya menghargai dan ingin sekali belajar budaya Indonesia, karena ini adalah jati diri dan identitas bangsa kita. Selain itu sangat miris sekali bila banyak budaya kita yang diklaim oleh negara lain. Sementara kita sendiri diam tidak memperdulikanya sama sekali, jadi kalau kita tidak bergerak dari sekarang, jangan marah bila satu persatu budaya diklaim oleh negara lain, maka dari itu kita punya gagasan ini” ungkap Ipung.

Ipung menambahkan bahwa harapan kedepan dari karya tulisnya adalah semoga Bangsa Indonesia, dan tentunya kita sendiri dapat menjadi orang yang tidak melupakan sejarah dan budaya kita sendiri, karena budaya merupakan identitas dan jatidiri bangsa kita. (Cucu/ Eko) 

Sumber:

published by admin on Tue, 2013-01-08 14:50

Mau Lulus Kuliah, Jangan Hanya Asal-asalan, Apalagi Sekedar Asal Lulus

0 comments

Berita Koran KR Tentang Kelulusan Mematikan
Lulus tepat waktu dan memperoleh gelar cumlaude merupakan impian semua orang. Pasalnya, penilaian akademis semacam itu dalam mindset kita merupakan hal yang sangat prestise dan membanggakan. Wajar bila masih dianggap sebagai simbol cap atas jaminan cerahnya masa depan seseorang. Parahnya lagi, praktis kalau kemudian semua orang turut berlomba-lomba mengejarnya dan tak ayal bila beragam cara apapun ditempuh meskipun dengan cara yang kurang baik sekalipun.

Jikalau kita melihat dalam ketatnya persaingan dunia kerja, penilaian yang kerap akan dinilai lebih adalah bukanlah pada penilaian akademis yang didewakan oleh sebagain besar orang saat ini. Melainkan penilaian yang lebih ditekankan pada pengalaman dan kemampuan keahlian atau keterampilan (softskill) yang salah satu contohnya adalah pengalaman keaktifan mahasiswa dalam mengikuti keorganisasian atau kegiatan kampus. Hal ini tentunya dikarenakan dunia kerja akan lebih banyak terjun berhubungan langsung dalam berinteraksi dengan banyak orang. Sehingga kecenderungan seseorang yang aktif didalam organisasi atau kegiatan kampus akan jauh lebih siap untuk bekerja dan siap untuk segalanya dibandingkan dengan seseorang yang hanya sekedar berkutat banyak menghabiskan waktu dalam tataran teori belaka yang tentunya sangat minim praktik dan sangat tidak siap kerja.

Ketidaksiapan lulusan sejatinya akan berdampak pada angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang sebagaian besar bukan dikarenakan tidak adanya lapangan pekerjaan, melainkan lapangan pekerjaan yang ada tidak lagi dapat menampung banyaknya lulusan perguruan tinggi yang minim keahlian dan ketrampilan kerja. Berdasarkan data terbaru yang bersumber dari Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa banyak lulusan perguruan tinggi alias sarjana mendominasi angka TPT sebesar 12,12% dari jumlah pengangguran nasional per Bulan Agustus 2012 yang mencapai 7,2 juta jiwa dengan TPT sebesar 6,14%. Jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan strata lulusan pendidikan dibawahnya seperti SMK yang hanya mencapai sebesar 9,87%, SMA 9,60%, SMP 7,76%, dan SD kebawah sebesar 3,64% (Republika, Rabu 12 Desember 2012).

Kalau dilihat dari tingkat jumlah penduduk Indonesia yang bekerja, terdapat sebanyak 110,8 juta jiwa telah bekerja dengan didominasi lulusan yang berasal dari pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 53,88 juta jiwa (48,63 %) dan lulusan SMP sebanyak 20,22 juta jiwa (18, 25%). Sementara lulusan Universitas yang sudah bekerja hanya mencapai 6,98 juta jiwa (6,30%) dan lulusan pendidikan Diploma hanya 2,97 juta jiwa (2,68%) (Kedaulatan Rakyat, Senin, 3 Desember 2012).

Berdasarkan data tersebut, kecenderungan terlihat sangat jelas bahwa lulus bukanlah sekedar lulus. Namun, seharusnya lulus itu lulus yang berkualitas yakni lulus bukan hanya lulus dengan baik di dalam kemampuan akademik saja, melainkan juga baik dalam beragam pengalaman dan kemampuan keahlian atau ketrampilan (softskill). Sehingga ketika seseorang lulus pun tidak akan lagi ada yang memikirkan kemana ia hendak akan pergi untuk mencari dan melawar pekerjaan, melainkan ia akan memikirkan bagaimana cara membuka dan menciptakan lowongan pekerjaan sendiri.

Kebijakan yang Kontradiktif

Terkait dengan kelulusan, beban mahasiswa sepertinya tidak pernah ada habisnya. Kita masih mengingat jelas pro dan kontra atas dikeluarkannya surat edaran dari Dirjen Dikti yang tertera dalam surat keputusan Kemendikbud No. 152/E/T/2012 tertanggal 27 Januari 2012 tentang publikasi karya ilmiah yang mewajibkan kepada setiap mahasiswa untuk membuat artikel ilmiah yang wajib dipublikasikan sebagai syarat kelulusan dengan alasan sebagai upaya untuk mengurangi plagiarisme dikalangan para akademisi dan kini mahasiswa akan dihadapkan dengan kenyataan kebijakan terbaru yang hendak dilaksanakan terkait dengan kelulusan yakni kebijakan pemberlakuan masa studi 4 (empat) tahun harus lulus. Sehingga mahasiswa yang masa studi lebih dari 4 (empat) tahun harus dikenakan sanksi putus masa studinya alias Droup Out (DO). Itu merupakan usulan kebijakan Rektor Universitas Negeri Yogayakarta (UNY), Prof. Dr. Rochmat Wahab M. Pd, MA yang akan diberlakuakan di UNY kedepannya dan Perguruan Tinggi (PT) lainya untuk mulai menerapkannya dengan alasan bahwa lamanya masa studi akan menyebabkan terjadinya pemborosan biaya pada pendidikan dan menghabiskan masa usia produktif mahasiswa (Kedaulatan Rakyat, Rabu 19 Desember 2012).

Lama atau tidaknya dalam menempuh masa studi, seharusnya instansi pendidikan tidaklah terlalu mementingkannya jikalau mahasiswa benar-benar mampu memanfaatkan waktu yang ada untuk mengembangkan seluruh kemampuan potensinya baik akademis yang diperoleh dari kegiaatan perkualiahan, maupun non akademis yang diperoleh dari kegiatan ektrakulikuler atau keorganisasian sebagai bekal ketika mereka lulus nantinya.

Jika benar kebijakan ini dilaksanakan, yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah mahasiswa mampu menempuh masa studi hanya selama 4 (empat) tahun seperti kebijakan yang hendak dijalankan diatas? Jawabannya mungkin saja bisa, namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah kualitas seperti apakah yang hendak akan dikeluarkan oleh perguruan tinggi ketika aturan kebijakan tersebut yang sangat terkesan memaksakan mahasiswa untuk belajar melebihi batas kemampuannya? yang dimana kita mengetahui dengan jelas bahwa kemampuan satu dengan orang lain yang tentunya berbeda-beda dan tidak sama?

Selain dinilai dari tingkat kemampuan, tentunya kita juga akan bertanya terkait dengan pengembangan pengalaman keorganisasian mahasiwa? Dimana yang telah dijelaskan sebelumnya diatas bahwa pengalaman dan keahlian atau ketrampilan (softskill) sangat berpengaruh besar dalam melatih kesiapan kita dalam menghadapi dunia kerja.

Apabila kebijakan ini benar akan diterapkan, sudah dipastikan bahwa dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi hanya akan menghasilkan dan mencetak lulusan-lulusan terdidik saja, bukan lulusan-lulusan yang terampil dan siap dalam bekerja. Selain itu, sudah sangat terlihat jelas pula bahwa perguruan tinggi hanya akan mengejar banyaknya jumlah kelulusan (kuantitas) dengan mengabaikan kualitas para alumninya yang sepenuhnya tidak siap bersaing dalam ketatnya persaingan dunia kerja akibat dari kurangnya kesiapan dan bekal yang dimiliki. Sehingga yang ada lulusan hanyalah akan menjadi penambah rentetan panjang angka pengangguran intelektual yang kini kian meningkat saja dikalangan lulusan-lulusan perguruan tinggi (Kedaulatan Rakyat, 3 Desember 2012).

Oleh sebab itulah, pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 telah menyebutkan dengan jelas bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Maka sudah saatnya pendidikan dijadikan sebagai patokan bahwa kebijakan dalam mencetak generasi lulusan pendidikan haruslah yang benar-benar mencetak lulusan yang berkualitas. Sehingga, harapannya kedepan perguruan tinggi tidak akan sekedar meluluskan mahasiswa dengan membekali gelar sarjana dan ijazah semata, namun juga membekali pengalaman dan kemampuan keahlian atau ketrampilan (softskill) pula. Karena sekali lagi bahwa lulus itu penting, akan tetapi yang lebih terpenting adalah janganlah lulus dengan asal lulus. 

(Ahmad Syaiful Hidayat, Mahasiswa Pendidikan Geografi)
Opini ini ditulis untuk menanggapi berita statement Rektor UNY yang termuat dalam Kedaulatan Rakyat, Rabu 19 Desember 2012 yang berjudul “4 tahun tak lulus, sebaiknya ‘DO’.

Dimuat dalam Rubrik Opini Ekspresi Online, 3 Januari 2013

Dimuat di Buku Lentera 2012

Wish List For My Mother, 2013

0 comments

"Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta !. Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala daripada masa yang akan datang" Bung Karno

Penulis bersama Ibu tercinta dan Keponakan, 2015
Tahun 2012 telah berlalu. Setahun lebih kenangan penuh cerita hadir melengkapi alur perjalanan kehidupan ini, baik suka maupun duka duka. Hal yang tak pernah terlewatkan adalah rasa penyesalah. Meskipun demikian, alangkah bijaknya bila kita tak usahlah terlalu memikirkan masa lalu dengan penuh penyesalah tersebut. Biarkanlah masa lalu menjadi bagian dari pengalaman kita untuk menapaki masa depan yang lebih baik. Karena pengalaman sesungguhnya adalah guru yang paling berharga. Jadi tataplah masa depan dengan optimis. Saatnya kita perbaiki diri, semoga tahun yang akan datang (2013) menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya (2012).

Salah satu yang aku tulis diharapanku 2013 adalah semoga aku bisa selalu ingat pesan dari mama.

“Dimanapun engkau berada selalulah menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan”

Buat mama terimakasih banyak, “You Are My Everything”

Semoga semua amanah ini bisa terlaksana. Aku berjuang dan berjanji agar tidak mengecewakan jerih payah atas segala seluruh perjuanganmu disana, demi anakmu ini.


Catatan awal tahun
Yogyakarta, 1 Januari 2013


Puisi: Belajar Aku belajar

0 comments

Aku Belajar

Aku Belajar

dokumentasi saat membaca di perpuskota, 2015
Hari ini aku mulai belajar,.. 
Belajar bukan karena UAS yang mulai membuatku jenuh saat ini,..
Dimana prestasi harus diukur dengan huruf-huruf keramat,..
Tapi tidak untuk itu semua,.
Hari ini aku belajar,..

Aku belajar melupakan seseorang yang telah melupakan aku,
Aku belajar memaafkan semua orang yang telah menyakiti aku,.
Aku belajar..
Aku belajar untuk menjadi orang yang terbaik untuk orang yang aku sayangi,..

Tetapi sayang,..
Aku tidak bisa belajar untuk satu hal,.
Satu hal yang tidak akan pernah bisa aku pelajari adalah
Aku harus bisa tersenyum di saat orang yang aku sayangi menyayangi orang lain,..
Aku tidak bisa,..
Aku tidak bisa untuk hal itu,.

Catatan siang ini
Di Rumah Berkarya BEM FIS UNY 2012
3 Desember 2013
ipung Berjuang


 
Ipung Berjuang © 2011-2017 | Designed by Interline Cruises | Template Modified by Ahmad Syaiful Hidayat,