Image
Headlines News : Selamat datang di webblog www.ipungberjuang.blogspot.com | Semoga konten yang terdapat di dalam blog dapat memberikan banyak informasi yang bermanfaat untuk kita semua | Redaksi www.ipungberjuang.blogspot.com menerima berbagai macam kritik dan saran yang membangun. Kontak. WA. 085602060009
Home » , » Modernisasi Pola Pergerakan Mahasiswa

Modernisasi Pola Pergerakan Mahasiswa

Written By Ahmad Syaiful Hidayat, S. Pd on Saturday, May 06, 2017 | 5/06/2017 03:19:00 PM


dokumen pribadi lain, jakarta 2 mei 2011
Departemen Sosial Politik, BEM FIS UNY menggelar sebuah agenda diskusi publik FIS STUDY CENTRE (FSC) yang bertemakan Modernisasi Pergerakan Mahasiswa di Era Kontemporer, Rabu (23/5/2012) di aula Fe UNY. Adapun narasumber diskusi adalah Yanuardi, M. Si (Dosen FIS UNY dan Mantan Aktifis UGM), Pidi Winata (Presiden REMA UNY 2009), dan Sigit Nursyam (Presiden REMA UNY 2008).

Sebagai awal diskusi Yanuardi memaparkan bahwa permasalahan didalam pergerakan mahasiswa adalah menentukan pergerakan modernitas mahasiswa yang tepat di era kontemporer seperti saat ini, mengingat bahwa posisi mahasiswa sangatlah strategis dalam perkembangan menentukan arah masa depan bangsa. Mahasiswa merupakan bagian dari elit terdidik, bekal pengetahuan kritis dan luas yang diperoleh dari bangku perkuliahan ataupun lainya, baik dari akademik maupun nonakademik menjadikan mahasiswa selalu memiliki gagasan-gagasan cerdas guna menyelesaikan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi oleh lingkungannya maupun bangsa saat ini.

Lebih lanjut, Yanuardi yang merupakan mantan aktifis UGM memaparkan bahwa gerakan mahasiwa yang penting dan perlu di revitalisasi saat ini adalah gerakan intelektual yang bercirikan pada keseriusan untuk memproduksi gagasan-gagasan cerdas dan solutif guna menyelesaikan persoalan yang ada pada masyarakat.

“Gerakan intelektual yang murni harus dapat berbeda dengan aktivisme intelektual yang lain” pangkas Yanuardi.

Aktivisme yang dimaksud Yanuardi adalah empat pola gerakan intelektual mahasiswa, antaralain yang pertama adalah Intelektual Menara Gading, yakni aktivitas mahasiswa yang berusaha berfikir dan menuangkan ide gagasan untuk kepentingan keilmuan semata tanpa peduli lingkungannya, atau hanya untuk mendapatkan kenikmatan diri sendiri saja. Kedua adalah Intelektual Tukang, yakni gerakan mahasiswa yang memposisikan diri sebagai pekerja intelektual. Ketiga adalah Intelektual Resi, yakni mahasiswa yang menempatkan posisi sebagai pengajar masyarakat yang berusaha menyampaikan nilai-nilai baik dan buruk kepada masyarakatnya. Dan yang terakhir, keempat adalah Intelektual Transformatif, yakni intelektual yang berusaha melahirkan gagasan yang lahir dari dialektika sosial dengan lingkungannya yang menjadi sebuah kekuatan yang mampu mempengaruhi proses perubahan sosial.

“Gerakan intelektual mahasiswa harus mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan pendobrak guna mendorong terjadinya transformasi sosial di Indonesia, oleh karena itu mahasiswa perlu mengambil posisi sebagai kekuatan intelektual transformatif, yaitu gerakan intelektual yang mampu melahirkan ide-ide yang lahir dari proses dialektika dengan masyarakatnya, sekaligus terus menerus memperjuangkan gagasan tersebut bersama masyarakatnya guna mencapai transformasi sosial yang di idealkan” papar Yanuardi lebih lanjut.

Hampir sama yang disampaikan dengan Yanuardi, Sigit Nursyam memaparkan 3 pola gerakan mahasiswa atau segitiga intelektual gerakan mahasiswa antaralain, yang pertama Edukasi adalah proses pendidikan terhadap suatu hal, kedua adalah Konsolidasi yakni perencanaan pergerakan, dan yang terakhir adalah Aksi yakni melakukan hal-hal kontribusi-kontribusi kecil nyata.

“Ketiga pola tersebut haruslah bersinergitas satu sama lainya karena satu sama lainya saling timbal balik” tegas Sigit.

Lebih lanjut, Sigit menjelaskan bahwa apabila ketiga pola tersebut terpisah, seperti pola pergerakan mahasiswa yang hanya mengedepankan Edukasi dengan Konsolidasi saja akan melahirkan gerakan mahasiswa Menara Gading, jika pola pergerakan mahasiswa lebih mengedepankan Aksi dan Konsolidasi maka pola gerakan mahasiswa yang terlahir adalah pola gerakan mahasiwa yang Anarkis, dan apabila gerakan mahasiswa yang mengedepankan Aksi dan Edukasi saja maka pola gerakan yang terlahir adalah gerakan Sporadis.

“Pola gerakan sporadis inilah yang sangat bahaya, pasalnya gerakan mahasiswa seperti ini lah yang mudah dipatahkan, mudah bercerai berai dan dipecah belah” tegas Sigit.

Menurut Pidi Winata mengungkapkan harapan besar terhadap pergerakan mahasiswa sekarang adalah bukan saatnya kita untuk terus mengeluh pada keadaan, tetapi saatnya kita menyadari dan sadar bagaimana kita untuk mengubahnya.

“Jadilah mahasiswa pemecah masalah, bukan penambah masalah”, Tegas Pidi lebih lanjut. []

Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi UNY
Kadept. MJ BEM FIS UNY 2012


Share this post :

Post a Comment

 
Kontak : Facebook | Twitter | Instagram | WhatsApp. 085602060009
Copyright © 2011. Ipung Berjuang - All Rights Reserved
Profil Ahmad Syaiful Hidayat, S. Pd | Partner SeputarJogja.com
Redesign Creating Website by @ipungberjuang