Image
Headlines News : Selamat datang di webblog www.ipungberjuang.blogspot.com | Semoga konten yang terdapat di dalam blog dapat memberikan banyak informasi yang bermanfaat untuk kita semua | Redaksi www.ipungberjuang.blogspot.com menerima berbagai macam kritik dan saran yang membangun. Kontak. WA. 085602060009
Home » » UN, Oh UN

UN, Oh UN

Written By Ahmad Syaiful Hidayat on Tuesday, April 15, 2014 | 4/15/2014 08:00:00 PM

Pernah dimuat dalam kolom opini suara mahasiswa di OkeZone, 13 April 2014
Sumber gambar: http://opiniartikel.kampung-media.com/2015/02/26/un-oh-un-8831



UN, Oh UN

SEKILAS mendengar kata UN alias Ujian Nasional yang terlintas jelas dalam benak kita hanyalah tertuju pada kata lulus, tidak lulus, dan selebihnya mungkin hanya sekadar pelengkap saja. Sehingga wajar bila kemudian UN diangap oleh sebagian besar orang sebagai salah satu momok yang luar biasa menakutkan.

Bukan hanya ditakutkan oleh para siswa sebagai peserta UN, melainkan secara psikologis juga berdampak dan berpengaruh besar kepada para guru, kepala sekolah, hingga orangtua. Semua larut dalam ketakutan bayang-bayang UN. Semuanya itu tidak lain karena UN dianggap sebagai sebuah ketidakadilan yang nyata di dalam dunia pendidikan.

Perjuangan pendidikan yang ditempuh para siswa selama tiga tahun lamanya, hanya dinilai dalam tempo hitungan beberapa hari saja. Apabila gugur satu saja, maka gugurlah semuanya. Ketidakadilan terselubung UN lainnya rupanya tidak berhenti hanya pada masalah lulus atau tidak lulus semata.

Hadirnya UN yang dirasa begitu eksklusif, ternyata dianggap telah menciptakan peluang dan ruang diskriminasi tersendiri yang memunculkan kecemburuan terhadap bidang mata pelajaran lainnya. Hal ini dikarenakan mata pelajaran lain seperti dianaktirikan dan dianggap tidak penting yang kemudian pada akhirnya terabaikan nasibnya.

Parahnya lagi, hadirnya UN sejatinya mampu mengikis mental-mental pendidikan kita menjadi orang penakut, seolah-olah telah "kalah sebelum perang" dan akhirnya membawa mereka ke arah sikap yang begitu pragmatis. Hal ini terlihat dari adanya UN yang hanya menilai aspek kognitifnya saja dan mengabaikan aspek penilaian lainnya, seperti aspek afeksi dan psikomotorik siswa.

Sehingga yang ada, UN justru bukan berdampak menjadi indikator dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang lebih baik, yakni sebagai evaluator pendidikan. Akan tetapi, realitanya UN justru berdampak pada perubahan pola pikir dan paradigma baru di tengah masyarakat. Tidak sekadar mengubah sikap dan cara pandang hidup kita, akan tetapi juga mengubah psikis serta mental kita semua yang kemudian banyak di antara kita semua terpaku menjadi pola-pola pikir baru yang mendewakan angka-angka mati dan grafik-grafik yang tak berjiwa. Ya apalagi kalau semua itu bukan sandar kelulusan UN.

Meskipun kecaman demi kecaman dan penolakan UN dilaksanakan oleh berbagai kalangan, praktisi maupun para ahli pendidikan di Indonesia. Ternyata seperti pepatah yang mengatakan bahwa biarkanlah anjing menggonggong dan kabilah tetap berlalu. Pemerintah tidak pudar, tetap konsisten dan terus akan melaksanakan UN sebagaibagian dari Indikator penilaian sejauh mana kualitas pendidikan Indonesia.

Bahkan, pemerintah dalam pelaksanaan UN tahun ini lebih memperketat pengawasan dan pelaksanaan UN untuk menghindari kecurangan seperti tahun-tahun sebelumnya. Paket soal yang diberikan kepada tiap siswa tidak tanggung-tanggung, semuanya berbeda dan tidak ada yang sama. Hal ini dikarenakan pemerintah telah menyiapkan beberapapaket soal untuk  siswa yang berbeda, meskipun dalam satu kelas sekalipun.

Oleh karena itu, siap tidak siap, para siswa harus siap karena UN pelaksanaannya telah di depan mata dan ujiannya pun dirasakan akan semakin berat. Maka dari itu, dalam waktu yang tidak lama ini para siswa jangan buang-buang waktunya untuk sesuatu hal yang tidak penting. Fokuskan semuanya untuk masa depan.

Meskipun demikian, bukan berarti semua waktu kita habiskan hanya untuk UN saja, namun alangkah lebih baiknya adalah rileks dan enjoy saja dengan beraktivitas seperti yang biasa dilakukan juga. Ini justru akan membantu mengurangi tingkat ke-stress-an menjelang UN. Hal yang lebih tepat untuk dilakukan adalah dengan mereview catatan-catatan penting, belajar dari soal-soal tahun-tahun sebelumnya dan jangan lupa berdoa serta mohon restu kepada kedua orangtua.

Semoga, waktu yang tersisa ini dapat kita manfaatkan sebaik mungkin. "Orang yang beruntung adalah apabila hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini". Tetap optimistis kalau kita bisa, bisa, dan pasti bisa. Study Hard, never give up and let’s do the best, and you will get to be the best. May God bless you. Selamat menempuh ujian nasional tingkat SMA/MA atau sederajat, 14-16 April 2014.

Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) (//ade)
Share this post :

+ comments + 1 comments

Thursday, April 17, 2014 9:38:00 PM

rasanya pro-kontra UN bakal berulang tiap tahun, sebab kebijakan ttg UN nampaknya belum sepenuhnya dibuat strategi yg sedetail-detailnya hingga matang. evaluasi hasil dan dampak UN juga kadang terlupakan untuk didiskusikan, untuk membuat kebijakan2 baru mendatang. setelah selesai UN, hingar bingar diskusi ttg UN lalu sepi. semoga dengan berganti-gantinya secara periode pemerintahan di indonesia juga tidak membuat UN luput untuk dievaluasi,apalagi jadi gonta-ganti kebijakan :)..salam

Post a Comment

 
Kontak : Facebook | Twitter | Instagram | WhatsApp. 085602060009
Copyright © 2011. Ipung Berjuang - All Rights Reserved
Profil Ahmad Syaiful Hidayat, S. Pd | Partner SeputarJogja.com
Redesign Creating Website by @ipungberjuang