Menjadi Mahasiswa Yang Sesungguhnya

Saturday, May 06, 2017

Jangan melihat ke masa depan dengan mata buta ! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari pada masa yang akan datang (Bung Karno)

Penulis sedang ber-ekspresi saat KKN-PPL UNY 2013
Menjadi mahasiswa adalah sebuah anugerah yang sangat luarbiasa. Butuh kerja keras dan perjuangan yang tak mudah untuk mendapatkannya, hal ini dapat dilihat dari ketatnya persaingan test akademik masuk perguruan tinggi yang diikuti lebih dari ribuan dan bahkan jutaan calon mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Selain itu, persaingan finansialpun menjadi ajang yang tak kalah hebatnya untuk diperhitungkan pula, terutama bagi kalangan masyarakat kaum kelas menengah kebawah.

Biaya pendidikan yang kian meroket, ditambah kian menjamurnya pungutan biaya lainya semakin menjadikan tamparan keras terhadap potret kondisi nasib pendidikan dan berbagai permasalahan di negeri ini yang tak kunjung terselesaikan hingga sekarang. Potret pendidikan yang kian terdustakan oleh kapitalisme dan liberalisme pendidikan yang telah mengubur dalam-dalam impian besar cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk turut serta berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kondisi inilah yang menjadikan paradigma masyarakat untuk berfikir ribuan ulang memutar otak yang semakin tergalaukan untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas emas dalam kehidupannya.

Jadi beruntunglah kalian kawan-kawanku semua wahai generasi bangsa yang sekarang ini telah benar-benar berkesempatan menjadi mahasiswa, Hidup Mahasiswa Indonesia !!!. Perjuangan demi perjuangan panjang telah kalian lalui, Meskipun demikian, sejatinya perjuangan belumlah berakhir karena dari sinilah awal perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Perjuangan untuk menjadi mahasiswa yang sesungguhnya, mahasiswa yang visioner, mahasiswa yang aktif, responsif dan mampu berkontribusi lebih sebagai agent of change, sebagai pembebas segala pengikat belenggu kebodohan, kebobrokan, penindasan, mahasiswa yang mampu menjadi mesin penghancur tanggul-tanggul KKN yang kian terkokohkan dan menjadi mahasiswa  problem solver, kritis disegala hiruk pikuk problematika bangsa baik dari dari segi sosial, ekonomi, politik, sampai agama yang kian memprihatinkan untuk negeri tercinta ini.

Jika hanya sepuluh orang pemuda saja mampu mengguncangkan dunia seperti yang dikatakan oleh Soekarno, maka dengan hadirnya ribuan mahasiswa dan pemuda di era masa sekarang ini, sudah sangat jelas akan mampu mengguncang dunia dengan dahsyatnya dan tak hanya satu dunia saja, bahkan ratusan kali lipat dunia sekalipun akan mampu diguncangkan oleh pemuda dengan mudahnya.

Ingatlah kawan, generasi muda adalah generasi the leader of tomorrow, nasib dan masa depan sebuah bangsa dipertaruhkan dan ditentukan oleh kalian, ditangan kaum muda, mahasiswa Indonesia. Sehingga dari dari tangan-tangan kalianlah ribuan juta rakyat Indonesia yang bersimpah darah menanti dan menaruh harapan besar untuk mencetak perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Sungguh ironis bila ribuan permasalahan yang ada di negeri ini, kita para mahasiswa hanya terpaku diam, apatis untuk memikirkanya dan bahkan enggan untuk terlibat didalamnya. Padahal mahasiswa adalah kaum intelektual, kaum dimana orang-orang yang memiliki segudang pemikiran yang mampu memberikan pencerahan atas problematika bangsa yang tengah melanda bertubi-tubi negeri ini. Mahasiswa merupakan symbol intelektualitas dan moralitas yang bersih baik dari manipulasi dan kosnpirasi yang ada, sehingga sudah saatnya mahasiswa bukan lagi sebagai penambah masalah, melainkan sebagai pemecah masalah karena mahasiswa adalah agent perubahan yang memiliki kelebihan baik dalam tingkat pengetahuan, daya nalar maupun kepekaan sosial yang lebih.

Dan pertanyaannya kini, masihkah kita akan terdiam dan apatis terhadap kondisi permasalahan dinegeri ini? Apakah cerminan dan potret segala kondisi bangsa pada saat ini atau hari ini belum mampu dan cukup untuk menyadarkan kita sebagai mahasiswa untuk terus bergerak melawan ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang semakin merajalela, dari tindakan amoral, kasus Korupsi sampai kasus konflik SARA dan HAM maupun yang lain sebagainya yang telah mencoreng nama baik bangsa ini sebagai bangsa yang berbudi luhur? Dimanakah keberadaan mahasiswa, kaum muda, kaum intelek sekarang? Dimanakah semangat mereka, semangat pemuda dan mahasiswa tempo dulu yang pernah berkobar mendulang dan menggoreskan prestasi kejayaan untuk negeri ini?

Mari kawan, tidaklah pernah ada kata terlambat untuk kita kembali menyuarakan suara dengan lantang dan keras, bahwa kita tegak berdiri disini untuk negeri kita tercinta, Negara INDONESIA, Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia!!! mari kita bangkit untuk terus menjadi garda terdepan, mari genggam tangan kita bersama-sama, bangkitkan semangat mahasiswa Indonesia baru, kita rebut kembali masa-masa kejayaan tempo dulu yang pernah ditorehkan pemuda dan mahasiswa dimasa lalu dengan jiwa-jiwa semangat baru kita sekarang, tanpa kenal rasa lelah, tanpa kenal rasa takut, dan tanpa kenal kata putus karena perjuangan akan terus kita kobarkan sampai pada titik darah penghabisan untuk menuju Indonesia yang sejahtera nan jaya.

Sudah cukup terlalu lama kita telah terdiam dan termenung dengan segala kondisi seperti saat ini, sudah saatnya kita sekarang sadar, bahwasanya ribuan juta rakyat Indonesia membutuhkan kita kawan-kawan. Mari kita ukir dan ciptakan sejarah baru, generasi kita yang cerdas, intelek, mandiri, cendekia dan tentunya generasi yang berkarakter karena sejatinya kita semua adalah mahasiswa yang sesungguhnya itu. [*]

“Jangan pernah tanyakan apa yang dapat negara berikan kepadamu, tetapi pertanyakanlah pada dirimu, apa yang dapat kamu berikan untuk negara !!!”

Penulis
Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Pimpinan Redaksi LENTERA
Kepala Departemen Media dan Jaringan BEM FIS UNY 2012
Pernah dimuat di Buletin LENTERA, Edisi Maba, Agustus 2012 dan Buku Lentera 2012

0 comments:

Post a Comment

 
Ipung Berjuang © 2011-2017 | Designed by Interline Cruises | Template Modified by Ahmad Syaiful Hidayat,