Pemuda NKRI

Thursday, April 10, 2014

Pernah dimuat di Pewara Dinamika UNY, Volume 14, Nomor 66, Agustus 2013. Kolom Opini, Hlm. 44-45





PEMUDA DAN INTEGRITAS NASIONALISME NKRI

Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi FIS UNY
ipung@gmx.com

Berbicara tentang pemuda, tentu tidak akan pernah ada kata habisnya untuk diperbincangkan. Terlebih lagi mengenai peran pemuda Indonesia yang dari masa ke masa kita ketahui senantiasa selalu menorehkan catatan sejarah yang begitu luar biasa diberbagai lini dalam pergerakannya. Salah satunya adalah mampu membingkai dan merajut perjuangan yang begitu membanggakan diatas keberagaman atas dasar satu nama “INDONESIA”.
Sejarah mencatat, pergerakan pemuda terlihat jelas dari perjuangan keras pemuda dalam turut andil disetiap perubahan bangsa ini. Mulai dari peran generasi 08 dengan gerakan pemuda pertamanya yang ditandai dengan lahirnya organisasi pertama, Boedi Oetomo (1908). Dilanjutkan Kongres Pemuda Pertama (1926) dan Kongres Pemuda Kedua (1928) dikenal sebagai generasi 28 dengan karya fenomenalnya “Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia”. Proklamasi Kemerdekaan (1945) dikenal sebagai generasi 45, Orde Lama (1949), Orde Baru (1965), Masa Gejolak Partai Kounis Indonesia (PKI) (1966) yang kemudian memicu adanya Tiga Tuntutan Rakyat (TRITURA) “Bubarkan PKI, Bersihkan pemerintahan dari unsur-unsur PKI dan Turunkan harga”, generasi pada masa ini dikenal sebagai generasi 66, dan Reformasi (1998) yang ditandai dengan tumbangnya rezim Soeharto (1966-1998) yang telah berkuasa selama 32 tahun ditangan kaum pemuda. Generasi ini dikenal sebagai generasi 98.
Berdasarkan hal diatas, tentu kita sadar dan paham betul bahwa pemuda sejatinya merupakan agen perubahan. Maka wajar saja, apabila banyak yang mengatakan bahwa generasi muda dikenal pula sebagai generasi penerus. Tentu semuanya itu tidak lain adalah karena pemuda merupakan generasi yang dipersiapkan dapat melanjutkan estafet perjungan generasi sebelumnya untuk terus berjuang dan membangun bangsa ini menjadi yang lebih baik lagi. Selain itu, generasi muda dikenal pula sebagai the leader of power  yang di mana kita ketahui bahwa nasib suatu bangsa itu berada dalam genggaman tangan kaum muda.“Jika pemudanya baik, maka baiklah negaranya dan jika pemudanya buruk, maka buruk pulalah negaranya”. Seperti itulah yang dikatakan pepatah untuk menggambarkan peran pemuda untuk masa depan bangsanya.
Belajar dari pengalaman sejarah diatas, kita patut bersyukur dan berterimakasih kepada para pemuda pendahulu kita semua yang telah berjuang mati-matian hingga berhasil menorehkan keberhasilannya berupa kemerdekaan yang sejati untuk bangsa ini, yakni proklamasi kemerdekaan (17 Agustus 1945). Selain itu, tentu kita dapat mengambil hikmah pelajaran pula bahwa kemerdekaan bangsa ini bukanlah pemberian cuma-cuma ataupun warisan penjajah. Akan tetapi kemerdekaan bangsa ini berasal dari perjuangan keringat para pejuang dengan semangat darah juang yang berlandaskan payung semboyan Bhineka Tunggal Ika “Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Jua”, sebuah semboyan yang mampu memantik serta mengantarkan semangat para pemuda dikala itu untuk merajut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan solidaritas bersama “satu rasa, sama rasa”. Sehingga, kalau tidak kita yang menjutkan perjuangan mereka, siapa lagi ?
Menjadi sebuah pertanyaan adalah entah mengapa semangat kebhinekaan para generasi muda kini, kita ketahui kian hari terasa kian luntur saja. Terlihat jelas dari kian maraknya konflik yang merajalela dengan berbagai latar belakang penyebabnya. Diantaranya tidak lain karena masalah klasik, seperti perbedaan agama, suku, ras, dan budaya. Contoh, kasus konflik Poso, Sampit-Madura, dan lain sebagainya, hingga maraknya gerakan sparatisme baru yang hendak memisahkan diri dari NKRI, seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), OPM (Organisasi Papua Merdeka), dan RMS (Republik Maluku Selatan). Padahal para founding fathers, kita maupun seluruh masyarakat Indonesia semua jelas telah sepakat untuk bersama-sama menggelorakan semboyan Bhineka Tunggal Ika “Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Jua”, dengan menanggalkan setiap perbedaan-perbedaan yang ada di negeri ini. Harapannya satu, semoga kelak baik kini, nanti maupun yang akan datang dapat melahirkan perdamaian yang sesungguhnya diantara generasi-generasi bangsa dengan memiliki sikap toleransi antara satu dengan yang lainnya. Mengingat bangsa kita merupakan bangsa yang kaya akan keanekaragamannya yang sangat heterogen dan kompleks (multikultural). Sehingga sangat mustahil apabila tidak ada kerawanan terjadinya konflik di negeri ini.
Peran aktif pemuda menjunjung tinggi sikap toleransi antara satu dengan yang lain adalah hal yang sangat diperlukan guna menunjang dan menjaga integritas NKRI bangsa ini. Pasalnya, merekakalah yang  memiliki dedikasi tinggi dengan penuh semangat dalam mengintegrasikan dan menerapkan suatu budaya toleransi diberbagai aspek kehidupan. Mereka pulalah yang mampu membaur dalam keberagaman sebagai agen perdamaian di negeri ini, baik dari segi sosial, budaya, adat istiadat hingga keberagaman antar umat beragama maupun kepercayaan.  Sehingga yang ada adalah para pemuda dapat berperan dalam berbagai hal, yakni bersama-sama bersatu padu kembali beramai-ramai menggalakkan dan menanamkan budaya toleransi, serta membuang jauh-jauh budaya anarki maupun perbuatan negatif lainnya yang kurang terpuji. Terlebih lagi budaya fanatik yang diantaranya merupakan salah satu pemicu banyak lahirnya berbagai konflik di tanah air ini. Seperti halnya yang terjadi adalah kecaman-kecaman serta adanya prasangka buruk antar umat beragama dalam versi pembelaan kebenaran masing-masing pemeluk agama maupun kepercayaan. Kemudian hal inilah yang menyebabkan saling fitnah memfitnah diantara mereka, hingga pada akhirnya tumpah darah,  saling membunuhpun dihalalkan atas dasar membela jalan tuhan (syahid). Oleh karena itu, salah satu harapannya kelak adalah para pemuda dapat berperan penuh menjadikan umat beragama bersinergi dalam satu kesatuan yang utuh dan tidak terpecah belah maupun bercerai berai.
Aksi atau tindakan nyata sebagai generasi muda saat ini yang perlu dilakukan dalam menghadapi problema bangsa, seperti problema moral umat beragama (hubungan lintas agama) adalah semangat menanamankan dan mengenalkan sikap dan jiwa toleransi yang religi. Pasalnya pepatah seringkali mengatakan bahwa “tak kenal, maka tak sayang”. Oleh sebab itu, tindakan nyata ini akan jelas membawa semangat serta menambah wawasan tentang budaya toleransi hingga mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu hal ini merupakan sesuatu hal yang sungguh luar biasa apabila bisa terlaksanakan. Contohnya, tidak melakukan diskriminasi terhadap perbedaan diantara kita, hal ini dikarenakan pada hakikatnya manusia memiliki kebebasan untuk memilih keyakinan ataupun kebebasan lainnya yang bersifat individual. Sehingga, berawal dari hal-hal kecil, berpositif thinking dan tiada kata yang terlambat, serta percaya bahwa tidak perlu menunggu hebat dulu baru membuat sebuah perubahan, niscaya aksi nyata yang dilakukan tersebut dapat memberikan efek domino yang luarbiasa hebatnya untuk menjunjung tinggi NKRI kedepannya.
Akhirnya, Akan ada dalam setiap jiwa pemuda Indonesia sebuah kesadaran dan kepahaman yang sejati akan kondisi bangsa seperti saat ini. Sehingga dalam diri para pemuda akan tertanam jawaban-jawaban luarbiasa atas pertanyaan seperti yang pernah dikatakan oleh mantan presiden Amerika Serikat Jhon F. Kenedy dalam pidato kenegaraannya, yakni “Jangan pertanyaakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tetapi pertanyakanlah pada dirimu sendiri apa yang telah kalian berikan kepada negaramu?” dan di Indonesia sendiri, kita juga masih ingat apa yang telah dipesankan oleh bung karno kepada para pemuda,“ beri aku 1.000 orang tua, akan aku cabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 orang pemuda, akan aku goncangkan dunia”.
Selain itu, kita harus sadar bahwa Allah SWT telah berfirman dalam Q.S Al Hujarat: 13 dikatakan bahwa “..Kita semua diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan serta menjadikan kita semua berbangsa-bangsa dan bersuku-suku tidak lain adalah agar kita semua saling mengenal.”. Hal demikian juga disebutkan dalam alkitab bahwa tuhan dalam perjanjian baru juga berfirman “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. / Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. / Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. / Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22:34-40; Markus 12:28:31).
Jadi, selayaknya kita yang masih muda dan mengaku sebagai seorang pemuda, sebagai generasi penerus bangsa dan sebagai agen perubahan untuk bangsa kita Indonesia yang lebih baik, maka sudah sewajibnya kita kembalikan kejayaan peran pemuda dalam integrasi NKRI dengan lantang bersemboyan Bhineka Tunggal Ika “Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Jua”. [*]
Yogyakarta, 1 Mei 2013
Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi FIS UNY



0 comments:

Post a Comment

 
Ipung Berjuang © 2011-2017 | Designed by Interline Cruises | Template Modified by Ahmad Syaiful Hidayat,