Lawatan Sejarah SMP-SMA se-Bantul DIY

Wednesday, December 28, 2016

LAWATAN SEJARAH SMP-SMA SE-BANTUL DIY
Puluhan siswa-siswi dan guru pendamping tingkat SMP dan SMA sederajat di Bantul mengikuti rangkaian kegiatan Lawatan Sejarah 2015 pada hari kamis (3/9) yang lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul DIY.
Lawatan sejarah merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun untuk memperkenalkan serta menumbuhkan rasa cinta generasi penerus bangsa terhadap sejarah dan budayanya sendiri, khususnya bagi masyarakat Kabupaten Bantul. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Drs. Bambang Legowo, M. Si dalam sambutannya,
“Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul sebagai fasilitator mengharapan kepada para peserta baik siswa-siswi maupun bapak/ibu guru pendamping agar dapat menjadikan kegiatan ini sebagai wadah untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaannya terhadap sejarah dan kekayaan budaya sendiri. Kekayaan budaya bangsa yang besar, wajib kita junjung tinggi, kita rawat, dan terus menerus kita lestarikan sepanjang masa hingga akhir hayat nanti”.
Bambang juga meberitahukan lokasi yang dijadikan sebagai tujuan lawatan sejarah tahun 2015 kali ini meliputi kunjungan ke Museum Tani Jawa Indonesia, Museum Batik, dan Museum Wayang Kekayon.
“Selamat belajar dan menikmati perjalanan ke museum-museum hari ini, semoga kegiatannya lancar dan bermanfaat” tandasnya.
Lokasi kunjungan pertama adalah Museum Tani Jawa Indonesia yang berada di Kampung Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Sesampainya di Musium Tani Jawa Indonesia, para peserta lawatan sejarah 2015 langsung disambut kedatangannya dengan pertunjukan kesenian musik tradisional Gejog Lesung. Pertunjukan Gejog Lesung ini merupakan kesenian khas yang dimainkan oleh beberapa orang tua dengan cara memukul-mukul Lesung memakai Alu panjang. Selama pertunjukan, para peserta lawatan sejarah juga dapat merasakan dan belajar langsung memainkan Gejog Lesung tersebut. Sambil menikmati pertunjukan, para peserta juga mendapatkan jamuan beberapa hidangan makanan khas tradisional, seperti lemper, klenyem, kacang tanah rebus, serta seduhan minuman teh hangat dan lain sebagainya.
Selain pertunjukan Gejog Lesung, pada waktu-waktu tertentu terdapat kegiatan rutin lainnya yang diselenggarakan di Museum Tani Jawa Indonesia, seperti perlombaan, pentas seni tradisi, maupun festival tingkat daerah dan nasional. Contohnya adalah pada bulan Januari, kegiatannya adalah perlombaan tandur (menanam) padi tingkat daerah dan nasional; Bulan Maretnya kegiatan lomba masak nasional; bulan Mei ada kegiatan pentas seni nasional dan budaya Jawa; bulan Juli kegiatan festival memedi sawah nasional; serta pentas seni tradisi tani dilaksanakan pada bulan September dan kegiatan perhelatan pameran hasil pangan pada bulan November.
Terkait dengan sejarah berdirinya Museum Tani Jawa Indonesia, menurut Maya selaku educator museum menjelaskan bahwa museum ini pada awal mulanya diprakarsai oleh Kristya Bintara, seorang lurah Desa Kebonagung pada tahun 1988. Kris sapaan akrabnya dan dibantu oleh rekan-rekannya mulai mengumpulkan berbagai macam koleksi terkait pertanian pada tahun 2005. Museum ini pernah mengalami kerusakan akibat Gempa Jogja tahun 2006 dan kemudian berhasil didirikan kembali di rumah Bapak Sarjono/Purwowiyono pada tanggal 4 Mei 2007.
Sampai saat ini, jumlah koleksi yang dimiliki oleh museum Tani Jawa Indonesia sebanyak kurang lebih 360 buah yang berasal dari hibah masyarakat setempat. Koleksi-koleksi tersebut, antara lain berupa Laku, Garu, Cangkul, Keranjang, Lesung, Lumpang, Sabit, Ani-ani, Caping, Wajan, Cowek, Kendil, Anglo, Keren, Kenthongan, Sosrok, dan lain-lain.
“Apabila ada masyarakat yang ingin menyumbangkan koleksinya terkait dengan alat-alat pertanian dan lain sebagainya, sangat diharapkan sekali bila bersedia disumbangkan untuk melengkapi koleksi museum yang telah ada” papar Maya seraya mengakhiri penjelasannya.
Setelah berpuas mengelilingi kompleks Museum Tani Jawa Indonesia, perjalanan lawatan sejarah dilanjutkan ke Museum Lingkungan Batik Joglo Ciptowening. Lokasi Museum ini berada di Dusun Paseban, Desa Ketandan Tengah, Wukir Sari, Imogiri, Bantul yang didirikan pada tanggal 18 Maret 2004 oleh Linda Heri Diyana. Akibat kerusakan Gempa Jogja yang terjadi pada tahun 2006, museum ini didirikan kembali dan diresmikan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 12 November 2007.
Tujuan didirikannya Museum Batik Joglo Ciptowening adalah untuk  melestarikan batik-batik kuno asal bantul, Yogyakarta, dan sekitarnya. Salah satu diantaranya adalah koleksi batik yang telah berusia 100 tahun dan konon katanya pernah dikenakan oleh Pakualam VII dan VIII. Selain menampilkan koleksi ratusan batik kuno, museum ini juga menyediakan ruang pamer hasil kerajinan batik masyarakat Imogiri dan sekitarnya dengan jumlah lebih dari 250-300an koleksi jenis batik Jogja dan Solo.
Koleksi lainnya, di museum ini juga menyimpan beberapa kain yang dihiasi motif-motif langka yang tidak lagi atau sudah jarang dirpoduksi lagi karena membutuhkan keahlian dan keuletan tersendiri. Motif tersebut diantaranya seperti motif lereng, sidomukti, sidoluhur, atau wahyu tumurun. Motif Batik Kalengan adalah salah satu jenis batik asli Imogiri yang dilestarikan di museum ini.
Selama berada di Museum Batik Joglo Ciptowening, para pengunjung dapat melihat dan belajar secara langsung pembuatan batik tulis. Selain itu, pengunjung juga dapat membeli kain batik sebagai souvenir dengan harga terjangkau dan mutu kualitas terjamin.
Setelah banyak belajar tentang batik, perjalanan kembali dilanjutkan ke Museum Wayang Kekayon. Lokasinya berada di Jalan Wonosari, No. 227, Mantub, Baturetno, Banguntapan. Museum wayang kekayon Yogyakarta didirikan mulai pada tahun 1981 dan selesai pada tahun 1987 oleh Prof. Dr. dr. KPH. Soedjono Prawirohadikusumo. Beliau adalah seorang guru besar UGM dan seorang dokter spesialis kesehatan jiwa. Pada saat kunjungan berlangsung, Museum Wayang Kekayon sedang mengalami proses renovasi total. Meskipun demikian, pihak pengelola museum masih menyambut kedatangan romobongan lawatan sejarah dengan sangat ramah dan hangat.
Kepala Museum, RM. Donny Surya Megananda memberikan penjelasan mengenai asal muasal sejarah wewayangan asli warisan budaya Indonesia berserta berdirinya museum Wayang Kekayan. Sejarah telah mencatat bahwa Wayang adalah warisan budaya asli Indonesia.
“Wayang adalah salah satu warisan kebudayaan asli bangsa Indonesia yang wajib dilestarikan. Wayang memiliki peran penting dalam pembangunan budi pekerti dan nalar di negeri ini”, pangkasnya.
Akhir dari kegiatan ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul DIY memberikan apresiasi kepada sekolah terbaik dalam kegiatan lawatan sejarah. Untuk tingkat SMP, Terbaik pertama diperoleh SMP Uunggulan Aisyiyah, terbaik kedua SMP 2 Bantul dan terbaik ketiga diperoleh SMP Islam Prestasi Bantul. Kriteria penilaian yang diberikan adalah terkait kekompakan dan keaktivan para siswa. Penilaian yang tidak kalah pentingnya adalah kiritik saran sebagai solusi atas permasalahan di lokasi lawatan sejarah yang membangun dari siswa-siswi.

Penulis:
Ahmad Syaiful Hidayat, S. Pd
Alumnus Geografi UNY / Guru SMP Islam Prestasi Bantul

0 comments:

Post a Comment

 
Ipung Berjuang © 2011-2017 | Designed by Interline Cruises | Template Modified by Ahmad Syaiful Hidayat,