Membahas Mentalitas Bangsa Indonesia

Wednesday, December 28, 2016

MENEROPONG KEBAHASAAN DAN KESASTRAAN INDONESIA

Bahasa dan sastra Indonesia merupakan alat komunikasi pemersatu di negeri ini, tepatnya setelah diikrarkannya gelora Sumpah Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928. Seiring berjalannya waktu, pelestarian bahasa dan sastra Indonesia kian terus menerus digalakkan.

Pasalnya, bahasa dan sastra Indonesia saat ini telah mengalami kemerosotan mental yang luar biasa. Bahasa Indonesia seakan-akan disisihkan dan pandang sebelah mata dengan bahasa lainnya, seperti Bahasa Inggris misalnya. Realita inilah yang menjadi salah satu pijakan diadakannya sarasehan kebahasaan dan kesastraan di Balai Bahasa DIY (19/10), yang sekaligus memperingati hari Pekan Bahasa.

Sarasehan ini mengangkat tema khusus, yaitu “Mentalitas Bangsa dalam Berbahasa dan Bersastra”. Adapun yang hadir sebagai narasumber ahli dibidangnya adalah Maman S. Mahayana dan Hilmar Farid.

Menurut Maman S. Mahayana, pernah suatu saat ada tudingan keras terhadap dunia sastra. Kritik sastra lesu darah, tanpa gizi, dan nyaris mati suri atau dalam Bahasa Karmina (pantun kilat) yang lebih hiperbolis mengatakan tutup pinggan dari batu atau hidup segan, mati tak mau. Meskipun demikian, pada dasarnya tidaklah dibenarkannya.

“Pernyataan tersebut sesat dan menyesatkan, karena kenyataannya tidak demikian. Skripsi, tesis, disertasi, makalah, penelitian, esai-esai sastra masih saja terus diproduksi”. Ungkap Maman
Lebih lanjutnya lagi, Maman S. Mahayana memaparkan bahwa mentalitas bangsa dalam menyikapi sastra Indonesia  tidak lain adalah bagaimana bangsa kita melihat, menempatkan, dan memperlakukan sastra Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun cara yang diusulkan Maman untuk melakukan perubahan mendasar dalam sistem pelajaran sastra dan bahasa Indonesia di sekolah, yaitu: (1) menempatkan pelajaran sastra sebagai apresiasi dan pelajaran bahasa Indonesia sebagai pelajaran keterampilan (membaca dan menulis; (2) menghindari soal-soal ulangan atau ujian dalam bentuk pilihan dang anti dengan bentuk esai yang menuntut keterampilan siswa dalam memahami dan mengungkapkan kembali pemahamannya dalam bentuk tertulis; (3) untuk jenjang sekolah dasar dan menengah, pelajaran bahasa Indonesia diganti dengan pelajaran mengarang dan apresiasi sastra; (4) menempatkan profesi sastra ataupun profesi lainnya sama; dan (5) menerapkan paradigm baru di berbagai lembaga (bahasa dan sastra) dengan menjadikan lembaga tersebut sebagai wadah pengembangan kreativitas, tempat pertemuan yang cair antara sastrawan, birokrat, dan masyarakat.

Menurut Hilmar Farid, narasumber ke dua memaparkan berbagai hal yang patut untuk direnungkan bersama berkaiatan dengan sastra dan bahasa Indonesia, diantaranya yaitu: kebiasaan  menyelipkan kata atau ungkapan asing dalam kalimat berbahasa Indonesia, seperti contoh “meng-create” atau “di-follow-up”. Bahkan disejumlah sekolah dasar maupun menengah Internasional-Indonesia, anak-anak Indonesia tidak lagi berbahasa Indonesia.

“Kondisi semacam ini, para pakar menilai sebagai gejala krisis identitas yang lebih besar”, paparnya.
Setelah selesai pemaparan tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan adanya diskusi dari peserta sarasehan dengan narasumber. Adapun diketahui, sarasehan ini diikuti lebih dari 250 peserta, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, dosen, budayawan  dan sastrawan, hingga masyarakat umum lainnya.

Penulis: 
Ahmad Syaiful Hidayat, S. Pd
Alumnus Geografi UNY / Pegiat Sastra Budaya Indonesia
     

0 comments:

Post a Comment

 
Ipung Berjuang © 2011-2017 | Designed by Interline Cruises | Template Modified by Ahmad Syaiful Hidayat,