Ujian Nasional: Antara Mutu dan Kelulusan

Saturday, May 06, 2017

KAJIAN POLEMIK UJIAN NASIONAL (UN: Antara Pemetaan Mutu dan Penentu Kelulusan)

Suasana Diskusi Tentang Ujian Nasional
Berbicara soal pendidikan merupakan sebuah hal yang tiada habisnya untuk didiskusikan, bukan lantaran masalah momentum hangat-hangatnya peringatan Hari Pendidikan Nasional, namun karena lebih fokus pada refleksi pendidikan yang masih jauh dari harapan kita semua. Hadirnya berbagai problem pendidikan mulai dari isu RUU PT, kapitalisme, komersialisasi pendidikan sampai polemik pelaksanaan Ujian Nasional menjadikan tanda tanya kepada kita semua,  mau dibawa kemana pendidikan kita sekarang?

Beberapa hal tersebutlah yang menjadikan dasar Departemen Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (BEM FIS UNY) mengadakan diskusi edukatif terkait polemik Ujian Nasional dengan mengangkat tema “Ujian Nasional: Antara Pemetaan Mutu dan Penentu Kelulusan” pada hari Kamis, (10/5) di Aula FE lantai 2.
Diskusi ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan baik dari mahasiswa pendidikan maupun non kependidikan, guru se-D.I.Y dan beberapa pemerhati pendidikan. Diskusi yang dimulai pukul 13.00 wib ini dihadiri pula oleh Birokrat kampus seperti Dekan Fakultas Ilmu Sosial Prof. Dr. Adjat Sudrajat, M. Ag dan Wakil Dekan III FIS Terry Irenewati, M. Hum. Acara diskusi ini mengundang beberapa pembicara yang berkompeten, yakni Drs. Auia Reza Bastian, M. Hum (Dewan Pendidikan D.I.Y), Suwandi, M. Pd (Guru MAN 3 Yogyakarta), dan Vivit Nur Arista Putra (Aktifis Pusaka Pendidikan).

Mengawali acara diskusi tersebut, Adjat Sudrajat mengungkapkan problema pendidikan adalah pendidikan sendiri telah di rampas oleh penguasa yang sudah tidak lagi memberikan kebebasan kepada dunia pendidikan untuk mengembangkan potensi secara maksimal, “hak-hak pendidikan para siswa telah dirampas para penguasa, lantaran hanya tidak lulus satu pelajaran saja, gugur semua dan sia-sia perjuangan selama 3 tahun lebih dalam belajar” tegas beliau dalam sambutan sekaligus pembukaan acara.

Mengkritisi adanya Ujian Nasional, Drs. Aulia reza Bastian, M. Hum, Dewan Pendidikan D.I.Y mengungkapkan  dari berbagai segi salah satunya melihat dari segi filosofis, Ujian Nasional telah melenceng dari hakikat tujuan pendidikan Indonesia, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, mendidik itu menuntun agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan, namun pada kenyataannya UN sendiri selalu berdampak pada masalah psikologis, baik pendidik maupun peserta didik. Hal lain yang di kritisi lagi adalah UN yang telah melenceng dari pijakan dasar pelaksanaan UN yakni PP 19/2005 Standar Nasional Pendidikan BAB X pasal 68, “isi aturan tersebut hakikatnya jelas UN sebagai penanda bukan sebagai penentu” tegas Aulia reza.

Alasan lainya yang dipaparkan oleh Aulia Reza Bastian meliputi Peran UN seharusnya menjadi evaluator Pendidikan yang dalam artian sebagai bahan evaluasi hasil belajar oleh pendidik secara berkesinambungan, namun realitanya  pemerintah berperan mutlak dalam penentuan kelulusan, padahal pendidiklah yang sangat tahu kondisi terhadap peserta didiknya, “jika hal tersebut dibiarkan maka UN hanya menilai aspek kognitif saja tanpa memperhatikan berbagai aspek lain seperti afeksi dan psikomotorik” papar beliau, lebih lanjut Aulia menegaskan bahwasanya UN seharunya juga mampu mereduksi hasil proses belajar selama beberapa tahun, bukan hanya ditentukan selama tiga atau lima hari saja.

Realitas negatif UN lainya adalah UN juga telah menciptakan peluang adanya diskriminasi pada pelajaran tertentu saja yang mengakibatkan pelajaran lainya terabaikan, UN berdampak pada cara pandang, psikis dan mental yang kemudian terpaku menjadi mindset/pola pikir pada angka-angka “mati” dan grafik-grafik yang tak “berjiwa”.

Tidak jauh apa yang diungkapkan oleh Aulia, Suwandi, M. Pd, Guru MAN 3 Yogyakarta mengungkapkan karut-marut pelaksanaan akbar tahunan seperti Ujian Nasional selalu menyebabkan pro-kontra. Perhatian masyarakat terhadap UN sangat besar, terbukti tak sedikit diantara masyarakat berkembang adanya plesetan UN seperti ujian niat, uji nyali, uji nasib, dll, hal ini menandakan terganggunya psikologis masyarakat akibat UN. Kondisi adanya UN telah menjelma menjadi tuhan baru, banyak diantara siswa mendadak alim, tobat, namun prihatinnya, ketika sudah selesai semua (tobat dan alim) juga selesai, “hal tersebut menunjukkan realitas contoh akibat korban pendidikan yang hanya mengejar nilai kuantitas saja tanpa menilai sebuah proses” Tegas Suwandi.

Tidak berbeda jauh dengan yang dipaparkan oleh Aulia dan Suwandi, Vivit Nur Arista Putra, Aktifis Pusaka Pendidikan mengemukakan lima alasan pokok penolakan berlangsungnya UN yaitu yang pertama, UN telah mengabaikan pendidik sebagai evaluator. Kedua, pemerintah telah berperan mutlak dalam penentuan kelulusan dan mengabaikan pendidik yang jelas lebih mengetahui persis perkembangan peserta didiknya. Ketiga, UN menilai secara kognitif, sedangkan penilaian afektif dan psikomotorik diabaikan. Keempat, UN yang diselenggarakan selama 3 hari atau sekitar 2 jam perhari sangat tidak menghargai proses belajar mengajar peserta didik selama 3 tahun. Kelima, UN kontradiktif dengan pembentukan karakter anak.

Di muat Tribun Jogja, 14 Mei 2012
Dari beberapa pokok alasan penolakan tersebut, Vivit lebih lanjut mengungkapkan bahwa pelaksanaan UN berimbas pada psikis atau mental pendidik dan peserta didik. Cara pandang dan cara mengajar guru menjadi pragmatis, “mengukur keberhasilan bukan dari segi hasil, namun seharusnya dari serangkaian proses, kondisi ini menjadikan sekolah fokus pada mapel yang diujikan, karena UN menyangkut prestise satuan pendidikan sehingga kondisi inilah yang menyebabkan potensi adanya kecurangan massal, antara pendidik, peserta didik, bahkan sekolah, semua dilakukan hanya demi satu kata pragmatis yakni lulus” tegas Vivit.
Dari beberapa pemaparan materi diatas, dapat disimpulakn bahwasanya UN sewajarnya bukanlah dijadikan sebagai ajang penentu kelulusan namun seharusnya sebagai pemetaan mutu pendidikan agar berjalannya pendidikan di Indonesia dapat berjalan dengan lancar dan dijadikan pemantauan sejauh mana perkembangannya pendidikan. “Semoga Ujian Nasional semakin bermutu” tegas para pemateri dalam clossing statement nya.[]

Mahasiswa Pendidikan Geografi
Kadept. Media dan Jaringan BEM FIS UNY 2012
Dimuat dalam Citizen Journalism Koran Tribun Jogja, Senin (14 Mei 2012) 

    


0 comments:

Post a Comment

 
Ipung Berjuang © 2011-2017 | Designed by Interline Cruises | Template Modified by Ahmad Syaiful Hidayat,