Kualitas SDM Indonesia

Senin, Juli 23, 2012

ANALISIS KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA
DI INDONESIA DAN PENGARUHNYA
Oleh:
Ahmad Syaiful Hidayat
10405241017
Mahasiswa Pendidikan Geografi FIS UNY
Disusun guna memenuhi tugas matakuliah Geografi Sumber Daya
dengan dosen pembimbing Sriyadi S, M. Si


Kondisi Sumber Daya Manusia Di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara terbesar dan terpadat penduduknya ke empat didunia setelah negara Cina, India, dan Amerika Serikat. Tercatat dalam Badan Pusat Statistik Sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2010 penduduk Indonesia berjumlah sebanyak 237. 641. 326 jiwa dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (lihat tabel 01).

Tabel 01. Perbandingan Hasil Sensus Penduduk
No.
Sensus Tahun
Jumlah Penduduk
1.
1971
119,208,229
2.
1980
147,490,298
3.
1990
179,378,946
4.
1995
194,754,808
5.
2000
206,264,595
6.
2010
237,641,326
      Sumber: (BPS, 2012)

Penduduk Indonesia tercatat dalam sensus penduduk 2010 tersebut mengalami peningkatan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49 persen pada periode 2000-2010 dari periode sebelumnya pada tahun 1990-2000 yang tercatat sebesar 1,45 persen. Kenaikan laju pertumbuhan ini jelas sangat mengkhawatirkan, pasalnya peningkatan kenaikan 0,04 persen laju pertumbuhan penduduk dengan pengkali jumlah penduduk 237 juta merupakan pertumbuhan penduduk yang luarbiasa. Bila laju pertumbuhan ini tidak segera ditekan, dikhawatirkan laju pertumbuhan penduduk di tahun-tahun mendatang akan mencapai 1,5 persen (Tempo: 2010). Jika terjadi hal demikian, bisa jadi akan semakin berdampak pada kondisi kualitas hidup, sosial dan pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia.

Sumber daya manusia dapat dipandang dari segala aspek potensi yang dimiliki merupakan sumber daya utama dalam pembangunan, termasuk pembangunan di wilayah pedesaan (Setyowati: 2012). Dilihat segi kuantitas, jumlah penduduk yang tinggi, Indonesia sebenarnya memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat besar. Tingginya jumlah penduduk merupakan modal dan aset penting dalam pertumbuhan perekonomian negara, khususnya dalam hal suplay tenaga kerja yang potensial sebagai salah satu bagian dari modal produksi. Terlebih bila usia produktif mampu ditekan dan dioptimalkan sebagai sumberdaya manusia yang berkualitas.

Usia produktif masyarakat Indonesia yang tinggi, apabila mampu dioptimalkan sejatinya akan memberikan dampak positif terhadap laju pertumbuhan perekonomian. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi akan berbanding lurus dengan banyaknya usia yang produktif, sehingga hal ini akan semakin menjadikan pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Meskipun begitu, hal tersebut belum sepenuhnya menjamin kemajuan terhadap pembangunan ekonomi, pasalnya petumbuhan penduduk yang tinggi di negara-negara berkembang dan terbelakang dianggap sebagai hambatan bagi perkembangan ekonomi

Hambatan perkembangan ekonomi tersebut disebabkan karena laju pertumbuhan tinggi yang ditandai dengan tingginya tingkat kelahiran menjadikan struktur penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) harus menjadi penanggung beban tanggungan yang tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya penghambatan perkembangan ekonomi. Beban tanggungan merupakan beban yang menjadi tanggungan penduduk usia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif. Penduduk yang menjadi beban tanggungan adalah struktur penduduk yang berusia di bawah 15 tahun dan diatas 64 tahun.

Pendapatan yang diperoleh penduduk usia produktif yang seharusnya disimpan sebagai investasi jangka panjang tidak sepenuhnya dapat dilakukan. Alasannya adalah lantaran pendapatan yang diperoleh tersebut akan lebih besar dikeluarkan untuk keperluan pemenuhan kebutuhan anggota keluarga yang tidak produktif lainya. Sehingga untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat semakin kecil dan sulit terpenuhi.

Terlihat jelas bahwa dengan tingginya tingkat laju pertumbuhan dan jumlah penduduk yang ada Indonesia, belum mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, dan bahkan sebaliknya menjadikannya semakin jauh tertinggal dari negara-negara lain.

Pemerintah Indonesia seharusnnya segera mengambil kebijakan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk agar pertumbuhan penduduk dapat terkontrol dan terkendali sehingga kesejahteraan masyarakat semakin terjamin, salah satunya adalah dengan mengubah paradigma masyarakat yang mengatakan “banyak anak banyak rezeki” dengan pepatah “sedikit anak banyak rezeki” melalui penerapan sosialisasi dan pendidikan keluarga berencana.

Bukan saja faktor tingkat kuantitas dengan jumlah penduduk Indonesia yang tinggi sebagai aset sumber daya untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, Indonesia sejatinya memiliki dan menyimpan kekayaan alam yang jauh lebih berlimpah. Berjuta-juta sumber kakayaan alam seperti bahan tambang dari emas, perak, sampai minyak bumi dan gas tersedia lebih dari cukup untuk kesejahteraan masyarakat indonesia, bukan hanya sampai itu saja masih terdapat pula kekayaan kultur sosial budaya yang sangat beragam di Indonesia yang tersebar kurang lebih di 17.508 pulau di Indonesia baik dari Sabang sampai Merauke. Namun sayangnya dari kesekian itu belum sepenuhnya terkelola dengan baik untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Posisi Indonesia yang sangat strategis, diantaranya berada diantara garis astronomis 6º LU – 11º LS dan 95º BT - 141º BT yang berpengaruh terhadap kondisi iklim sangat baik untuk wilayah Indonesia yang memiliki luas wilayah daratan sekitar 1,9 juta km² dan luas wilayah lautan 3,2 juta km² baik sebagai lahan pertanian maupun lainnya. Selain hal itu, Indonesia juga di untungkan karena berada diantara benua Asia dan Australia, dan diantara Samudera Hindia dan Pasifik sebagai jalur perdagangan dunia dan berdaulat penuh atas kekayaan udara, darat dan lautan dari sabang sampai merauke (lihat gambar 01).

Gambar 01. Peta Posisi Stategis Indonesia

Meskipun demikian, beragamya potensi yang sepenuhnya dimiliki oleh negara Indonesia pada kenyataannya belum mampu memberikan dampak maksimal terhadap kesejahteraan masyarakatnya, masih banyak masyarakat hidup berada dalam garis kemiskinan dan kelas menegah kebawah. Belum maksimalnya pengelolaan sumberdaya tersebut sebagai penunjang untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan negara Indonesia diperparah dengan maraknya perpindahan status kepemilikan pengelolaan berbagai sumberdaya yang dimiliki kepihak tangan asing.

Bila potensi tingginya jumlah penduduk, luas wilayah Negara Indonesia sampai tingginya nilai kekayaan sumberdaya alam bukan satu-satunya faktor penentu untuk kejayaan suatu bangsa atau dengan kata lain belum mampu meningkatkan kesejahteraan, maka bisa jadi dugaan kuat mengarah pada kualitas sumber daya manusia, terlebih melihat pada kemampuan penduduk dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia (Prayoto: 2004).

Kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia
Pada dasarnya sumber daya manusia merupakan hasil dari sebuah proses regenerasi yang diwariskan secara turun temurun dan hasilnya tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) namun dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan seperti: lingkungan geografis, budaya, peradaban dan lain sebagainya. Faktor-faktor tersebutlah yang menjadikan adanya perbedaan-perbedaan yang nyata diantara kualitas sumber daya manusia dari lingkungan satu dengan yang lainnya (Prayoto: 2004).

Berdasarkan aspek kualitas, manusia sebagai sumber daya dilihat pada kemampuan atau skill yang dimilikinya untuk mencerminkan kualitas usaha yang mampu diberikan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan manusia dalam bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja dalam artian melakukan kegiatan ekonomi.

Persoalan penilaian indikator kualitas sumber daya manusia yang paling mudah adalaah dengan melakukan perbandingan antar bangsa atau negara. Perbandingan tersebut didasarkan pada hal-hal yang lebih bersifat kualitatif yang tidak mudah dilakukan, sehingga hasilnya lebih memiliki kecenderungan bersifat subyektif. Oleh karena itu perbandingan yang dilakukan agar lebih mudah diangkakan dan dilakukan adalah dengan menggunakan perbandingan yang berdasarkan kuantitatif. Perbandingan tersebut memberikan gambaran yang positif tentang negara dan bangsa Indonesia, akan tetapi tidak hanya hal yang positif saja namun dalam waktu yang bersamaan tentunya perbandingan tersebut akan banyak memberikan gambaran lainnya yang menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat memprihatinkan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di Dunia ((Prayoto: 2004).

Penilain kualitas sumber daya manusia haruslah memiliki indikator yang jelas, karena hal ini sangat penting dilakukan. Pasalnya kualitas penduduk merupakan salah satu indikator pemantauan atas mutu kehidupan penduduk dalam suatu negara. Dalam analisis tulisan ini, indikator yang lebih ditekankan adalah pada beberapa faktor yang dominan dalam menilai dan menujukkan kualitas sumber daya manusia yang diantaranya adalah tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, tingkat pendapatan perkapita.

Tingkat Pendidikan
Kemampuan dalam mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu indikator dari kemajuan dan kesejahteraan setiap bangsa dan hal tersebut sangat tergantung pada kualitas  sumber daya manusia yang dimiliki.

Sejarah mencatat bahwa bangsa-bangsa yang hancur selama perang dunia dapat cepat bangkit karena bangsa tersebut memiliki sumber daya manusia yang berkualitas sangat tinggi (Prayoto: 2004).

Melihat hal yang demikian, tersadar betapa pentingnya pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan sengaja untuk mengubah tingkah laku manusia baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan (Sugihartono: 2007).

Berdasarkan data pada tabel Indeks Pengembangan manusia Indonesia diantara 174 negara di dunia yang meliputi komponen pencapaian pendidikan, kesehatan, dan pendapatan per kapita, mengalami penurunan dari tahun 1996-2000. Tercatat pada tahun 1996 Indonesia pada urutan ke 102 dunia, dan turun pada tahun 1997 pada posisi urutan ke 99, namun pada tahun 1998 naik menjadi 105, dan kembali naik pada tahun 1999 menjadi 109, dan tahun 2000 menjadi 112.

Selain hal tersebut, berdasarkan laporan UNDP pada tahun 2000, mutu sumberdaya manusia Indonesia tertinggal jauh berada pada posisi urutan 109 dunia, dan tertinggal jauh dari negara malaysia pada urutan 69 dan brunei pada urutan 32.

Tabel 02. Indeks Pengembangan Manusia Indonesia
dan Mutu Sumberdaya Manusia diantara 174 Negara di Dunia
No.
Indeks Pembangunan Manusia Indonesia diantara 174 negara di dunia
No.
Mutu Sumber Daya Manusia   berdasarkan laporan UNDP tahun 2000
Tahun
Urutan
Negara
Urutan
1.
1996
102
1.
Indonesia
109
2.
1997
99
2.
Malaysia
69
3.
1998
105
3.
Brunei
32
4.
1999
109

5.
2000
112

            Sumber: (Pujantoro: 2010)

Menurut UNESCO, mutu pendidikan Indonesia berada pada urutan ke 119 di dunia. Sedangkan PERC (Political and Economic Ris Consultant) menyatakan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 diantaranya 12 negara Asia.

Menurut Majalah Asia Week dari 77 Univeristas yang disurvey di Asia Pasific ternyata terdapat 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke -61, 68, 73, dan 75. Hal ini sangat jauh dengan univerisitas di singapura yang mempu menempati peringkat ke-2.

Adanya mutu pendidikan yang rendah ternayata bebarengan pula dengan indeks pengembangan manusia yang rendah. Meskipun terdapat beberapa segelintir manusia Indonesia memiliki kecerdasan yang tinggi, diantara beberapa anak muda inodneisa yang berhasil memenangkan perlombaan ilmu pengetahuan baik tingkat internasional maupun tingkat asia-pasific, namun hal tersebut tidak berarti mereka akan memiliki kualitas yang tinggi pula (Pujantoro: 2010).

Kualitas bangsa yang rendah ini tidak lepas dari produk pendidikan dan lingkungan yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Pendidikan yang terasa dipacu dalam beberapa kali perubahan kurikulum (1975, 1984, 1994, 2004) belum juga membuahkan hasil. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya, kualitas pendidikan Indonesia mengalami penurunan (Pujantoro: 2010).

Pendidikan adalah salah satu cara sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia oelh karena itu haruslah terus dikejar, serta menciptakan kesempatan kerja yang mencakup pemanfaatan sumber daya manusia secara maksimal yakni sumber daya manusia yang memiliki tingkat produktivitas tinggi (Fathurochman: 2012).

Tingkat Kesehatan Penduduk
Pendidikan dan kesehatan seperti dua sisi mata uang. Dua sektor ini menjadi dasar penentu dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan menjadi fokus untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM). Jika kualitas manusianya baik, diharapkan pembangunan perkotaan juga bisa lebih baik dalam mencari solusi permasalahan (Setyowati2012).

Tingkat kesehatan sebagai bagian dari indikator kualitas pendidikan dikarenakan kesehatan merupakan modal manusia yang paling utama. Kualitas penduduk di suatu negara tercermin dari tingkat penduduknya, makin tinggi harapan hidup di suatu negara menunjukkan bahwa mutu kesehatan penduduk tersebut makin tinggi pula.

Hal mendasar yang perlu dicermati terkait kesehatan adalah masalah perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat merupakan modal utama untuk mendukung peningkatan status kesehatan penduduk.

Masalah penyakit menular dan tak menular secara otomatis akan menurun sejalan dengan lingkungan yang bersih dan sehat, terutama bagi penduduk yang tinggal di lingkungan permukiman padat dan kumuh. Sebab, kelompok inilah yang rentan terserang wabah penyakit (Setyowati2012).

Tingkat Pendapatan Per Kapita
Meskipun Pendapatan perkapita secara Internasional bukanlah satu-satunya tolok ukur dalam indikator penting untuk mengetahui kualitas sumber daya manusia, akan tetapi pendapatan perkapita merupakan indikator penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemakmuran suatu negara. Dengan demikian jelas bahwa terdapat hubungan antara tingkat kesejahteraan manusia dengan kualitas sumber daya manusia itu sendiri, dimana kualitas sumber daya manusia yang tinggi akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan mansuia itu sendiri.

Pendapatan perkapita adalah pendapatan yang dihitung dari pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara pertahun. Melihat kondisi pendapatan perkapita indonesia, dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainya, pendapatan per kapita penduduk indonesia lebih rendah dan terpaut sangat jauh.

Tabel 03. Perbandingan Pendapatan perkapita Negara-negara
No.
Negara
Pendapatan perkapita
1.
Ukraine
$ 2,468
2.
Georgia
$ 2,447
3.
Paraguay
$ 2,365
4.
Congo, Republic of the
$ 2,361
5.
Indonesia
$ 2,349
6.
Micronesia, Federated States of
$ 2,319
7.
Egypt
$ 2,269
8.
Iraq
$ 2,090
9.
Sri Lanka
$ 2,068
10.
Honduras 
$ 1,960
11.
Bhutan
$ 1,831
Sumber: (World Bank: 2012)

Berdasarkan data di atas dapat di lihat bahwa pendapatan per kapita Indonesia masih tergolong rendah, namun masih di atas beberapa negara lain.


Permasalahan Permasalahan-permasalahan kualitas sumber daya manusia di Indonesia

Kemiskinan
Tingginya jumlah penduduk Indonesia menyisakan banyak sekali dampak sosial ekonomi terhadap kesejahteraan masyarakat indonesia, dari 237. 641. 326 jiwa penduduk indonesia berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2010, dan berdasarkan hasil perhitungan terbaru pada tahun 2012, penduduk Indonesia telah mencapai jumlah lebih dari itu. Diantara kesekian ratusan juta penduduk tersebut, berdasarkan hasil perhitungan statistik bulan Maret 2012 terdapat sekurangnya 29,13 juta atau (11,96 persen) jiwa merupakan penduduk miskin (lihat tabel 04).


Tabel 04. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
Menurut Daerah, Maret 2012
No.
Daerah
Jumlah Penduduk Miskin
(Juta)
Persentase Penduduk Miskin (%)
1.
Perkotaan
10,65
8,78
2.
Perdesaan
18,48
15,12
3.
Kota+Desa
29,13
11,96
Sumber: (BPS: 2012a)

Tingkat jumlah dan persentasi penduduk miskin menurun dari tahun 2004 ke 2005. Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin naik karena harga barang-barang kebutuhan pokok naik tinggi yang digambarkan oleh inflasi umum sebebasar 17,95 persen. Namun mulai tahun 2007 sampai 2012 jumlah maupun persentase penduduk miskin kembali mengalami penurunan (lihat tabel 05)

Tabel 05. Perkembangan Kemiskinan di Indonesia, 2004-2012

Menurut pemerintah angka kemiskinan terus menurun dari 23,4% pada tahun 1999 dan 16,58% pada tahun 2007 menjadi 12,35% pada tahun 2011. Permasalahannya, turunnya tingkat kemiskinan versi pemerintah tersebut disebabkan oleh rendahnya standar garis kemiskinan yang digunakan. Pada tahun 2011 standar garis kemiskinan nasional sebesar Rp243.729,-. Artinya penduduk yang miskin adalah penduduk yang memiliki pengeluaran rata-rata perbulan di bawah Rp243.729,- atau perharinya di bawah Rp8.124,-. Jika pengeluaran rata-rata seseorang setiap harinya naik sebesar dua ratus rupiah dari Rp8.000,- menjadi Rp8.200,-, maka oleh pemerintah, orang tersebut tidak dikatagorikan sebagai orang miskin. Ini jelas sangat tidak rasional (Muttaqin: 2012).

Pengangguran
Tingkat laju pertumbuhan penduduk Indonesia tercatat dalam beberapa sensus menunjukkan beberapa peningkatan yang sangat signifikan, dan tentunya penduduk usia produktif juga meningkat yang diantaranya tersedia tenaga-tenaga kerja.

Munculnya masalah pengangguran dikarenakan tingkat pertumbuhan angkatan kerja dan pertumbuhan lapangan kerja yang tidak seimbang.

Tabel Tingkat Pengangguran di Indonesia
            Sumber: http://www.presidenri.go.id/index.php/indikator/

Dilihat dari tabel tersebut, pengangguran di Indonesia masih tinggi. Pada tahun 2008, pengangguran mencapai 8,5 persen. Pengangguran tertinggi dari tahun 1998/1999 sampai tahun 2008 yakni pada tahun 2005 yang mencapai 11,2 persen, namun berangsur menurun pada tahun 2006 10,3 persen, dan pada tahun 2007 mencapai 9,1 persen. Meskipun pada tahun 2008 tercatat 8,5 persen, pengangguran di Indonesia masih tergolong masih tinggi.


Usaha-Usaha Yang Dilakukan Untuk Mengatasi Permasalahan-Permasalahan Sumber Daya Manusia Di Indonesia
Permasalahan-permasalahan sumberdaya manusia di Indonesia sangatlah beragam dari tingginya jumlah penduduk yang mempengaruhi perekonmian sampai  permasalahan tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat Indonesia adalah hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Untuk mengantisipasi permasalahan yang ada, strategi praktis pengembangan sumber daya manusia adalah tidak semata-mata bertumpu pada permasalahan yang diperkirakan akan terjadi di masa yang akan datang, namun juga harus melihat permasalahan yang belum dapat diatasi sampai saat ini. Sebab, permasalahan yang akan datang mungkin juga merupakan akibat atau akumulasi masalah yang lalu

Masalah Kependudukan yang menjadi penghambat bagi peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat Indonesia adalah masalah poko dari segala sumber permasalahan yang ada di Indonesia, oleh karena itu haruslah segera dipecahkan. Berikut adalah upaya yang dapat dilakukan antara lain:
1.     Mengontrol laju pertumbuhan dan jumlah penduduk, Upaya yang dapat dilakukan salah satunya melalui program berencana (KB).
2.     Pemerataan Penduduk melalui transmigrasi penduduk. Transmigrasi selain sebagai upaya untuk mengurangi kepadtan penduduk disuatu tempat, juga dapat memberikan peluang usaha serta pekerjaan bagi masyarakat.
3.     Peningkatan pelayanan kesehatan dengan terus mencanangkan program pemerintah 4 sehat 5 sempurna
4.     Peningkatan pelayanan pendidikan dengan mencangkan program Wajar (wajib belajar)


Daftar Pustaka

Anonim. Indikator.  http://www.presidenri.go.id/index.php/indikator/. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

Anonim. Potensi Sumber daya Manusia desa. http://repository.ipdn.ac.id/48/9/bab.6..pot.sdm.desa.pdf. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

BPS. 2012a. Profil Kemiskinan di Indonsesia Maret 2012. Berita Resmi Statistik No. 45/07/th.xv, 2 Juli 2012. http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan_02jul12.pdf. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

BPS, 2012b. Badan Pusat Statistik Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=1. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

Fathurrochman dan Widyaningrum, Ambar.  2012. Masalah dan Pengembangan Sumber daya Manusia.  http://fatur.staff.ugm.ac.id/file/KORAN%20-%20Masalah%20dan%20Pengembangan%20Sumberdaya%20Manusia.pdf. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

Muttaqin, Hidayatullah. 2012.  Kegagalan Model Pembangunan di Indonesia. http://www.jurnal-ekonomi.org/kegagalan-model-pembangunan-di-indonesia/. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

Prayoto. 2004. Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Majalah Ilmiah UNIKOM Vol.01/01/2004. http://prayoto.50webs.com/Menyoal%20Kualitas%20Sumber%20Daya%20Manusia%20Indonesia.pdf. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

Pujiantoro. 2010. Menjadi Cerdas atau Berkualitas. http://gemapendidikan.com/2010/04/menjadi-cerdas-atau-berkualitas/. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

Setyowati, Mg Retno. 2012.  Pembangunan Manusia Kunci Utama Benahi Kota .http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/05/02/23404185/pembangunan.manusia.kunci.utama.benahi.kota. Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012.

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan.  Yogyakarta: UNY PRESS.

Tempo. 2010. Pertumbuhan Penduduk Indonesia Mengkhawatirkan. http://www.tempo.co/read/news/2010/10/19/173285658/pertumbuhan-penduduk-indonesia-mengkhawatirkan-160. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.

World Bank. 2012. Perbandingan Pendapatan Perkapita. http://logos-epitimistis.blogspot.com/2012/05/perbandingan-pendapatan-perkapita.html. Diunduh pada tanggal 16 Juli 2012.


0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa tinggalkan komentar, atau kritik dan saran ya?

 
Ipung Berjuang © 2011-2014 | Designed by Interline Cruises | Template Modified by Ahmad Syaiful Hidayat,